Awkarin dan Pendidikan

Di Selasa Indonesia kali ini, saya ingin bercerita tentang sebuah sosok wanita. Namanya Karin Novilda, tapi kebanyakan orang mengenalnya sebagai Awkarin. Jadi, di tulisan ini saya juga akan menyebutnya Awkarin. Dia masih muda, belum ada 25 tahun.

Pembaca blog ini yang tinggal di Indonesia kemungkinan besar sudah mengenal siapa Awkarin. Sosoknya jadi terkenal lewat akun Instagram nya yang rada kontroversial karena seringkali pasang foto yang lumayan “berani” dengan (mantan) pacarnya sewaktu dia masih SMA. Tak hanya foto yg berani, tapi caption nya pun juga tanpa sensor. Entahlah apa yang mau digambarkan. Remaja masa kini mungkin? Hmmm. Tentunya netizen Indonesia gempar lah liatnya, banyak yang mencela, banyak pula yang memuji. Biasalah, standar sensasi media sosial jaman sekarang.

Oh iya, sosoknya makin terkenal dari hari kehari dan kini kalau nggak salah jumlah followers di Instagram nya sudah mencapai 1 milyar lebih. Wuih. Angka yang cukup fantastis ya. Awalnya foto – foto yg kontroversial, kemudian buat video youtube penuh drama ketika putus dengan si pacarnya itu, dan berteman baik dengan seorang rapper yang konon kabarnya sedang naik daun juga dan berduet bersama. Makin lah terkenal si Awkarin ini.

Saya terus terang lumayan suka mengikuti kiprahnya, hahahaha, buat bahan gosipan sama teman – teman kalau sedang bosan macet :p. Tapi ya saya pikir nggak penting lah saya bahas di blog soal kiprah atau perilakunya.

Sampai baru – baru ini saya ketemu sebuah artikel yang ditulis oleh Woop.idJudulnya “50 Shades of Awkarin”. Di thumbnail artikelnya, Awkarin yang biasanya tampil dengan baju hitam2 dengan raut muka (saya mau nulis “sok” tapi… ah yasudah lah) cool, kini tampil dengan baju putih sambil senyum manis di latar belakang bunga – bunga. Oh wow. Saya klik lah link nya, untuk membaca artikelnya.

Awalnya sih artikelnya standar ya.. soal media sosial, kontroversinya.. dll. Eh tapi begitu sampai di bagian terakhirnya saya merasa terganggu banget. Ini lho cuplikannya.

screen-shot-2016-11-14-at-8-49-12-pm
Diambil dari artikel Woop.id

YAH AMPUN. ANAK INI.

Saya bisa aja ngomong nggak berhenti soal hal – hal yang mengganggu saya soal omongan si Awkarin diatas. Tapi intinya, saya sedih banget melihat anak seperti ini, yang jadi idola ribuan dedek – dedek ABG yang katanya penerus bangsa, segitu sombongnya menyuarakan pemikiran bahwa kuliah itu buat cari gelar dan kerja semata.

Duh. Miris bacanya.

Ya memang pada akhirnya uang yang bisa membayar tagihan – tagihan biaya hidup kita, tapi apa iya hanya itu satu – satunya tujuan kuliah? tentu tidak kan!

Okelah sekarang dia banyak uang dan terkenal. Tapi berapa lama sih biasanya uang dan ketenaran bertahan? Kita sama – sama tau lah ya cerita artis yang cepat meroket tapi cepat juga hilang kabarnya.

Sedihnya lagi, saya rada nggak ngerti kenapa portal yang memuat artikel ini menulis di halaman “about-us nya bahwa mereka adalah media bagi perempuan yang berwawasan, modern, independen, kritis, dan lain lainya…. kemudian mereka menampilkan wawacara dengan Awkarin tentang pendidikan yang isinya sangat tidak mendukung. Sangat bertolak belakang sekali. Duh.

Saya yakin sih perempuan modern, kritis, dan sebagainya itu nggak akan terpengaruh oleh omongan Awkarin. Tapi fans ABGnya yang rata – rata masih labil dan butuh bimbingan? Semoga mereka masih mengikuti jalan yang benar ya.

Ah, jadi ingat jingle jaman dulu. “Ayo…. Sekolah!” 🙂

Advertisements

66 thoughts on “Awkarin dan Pendidikan”

  1. Baru tahu soal wawancara itu, mba Chris. Skrg kan dia kuliah di B*n*s. Artinya scr ga lgs bilang disana tdk bgs dong…Ah yg disesalkan knp bnyk media yg blgnya berkelas malah mempopulerkan hny krn…yah..kl mager sekolah krn seinovatif bill gates dan mark pendiri fb oklah..kl krn kontroversi dan gaya hidup..please..😅

    1. Iya itu yang aku sesalkan kenapa seakan2 pendapat dia di afirmasi.. gak apa sih menyorot dia, namanya juga media, tapi idealnya sih bagian begini ngga usah ditampilin yah..

      Oh well bill gates and zuck itu baru exceptional, mereka kan awalnya aja udah masuk ivy league, kemudian keluar karena merasa sistem sekolah gak bisa menampung kepintaran mereka. Nah ini? hehehehe

  2. Aku yang termasuk telat tau soal si Awkarin ini. Kalo menurut aku sih dia itu kepengen dibilang berbeda tapi kebablasan. Miris. Aku bukan tipe yang suka ngurusin orang tapi ngeliat yg begini setuju sama Mbak Christa takutnya efeknya ke fansnya yg ABG labil itu. Baca ini jadi keinget postingan Mbak Yo tentang online influencers 😊

    1. Iya aku gak masalah kalau soal gaya hidup dan lain2 nya itu sih urusan dia ya.. begitu bawa2 pendidikan aku gatel pengen bersuara hahaha.. aku #teamsekolah banget soalnya 😀

      1. Iya mbak aku juga kalo gayanya gak ngurusin sih, toh banyak juga selebriti lain yg seperti itu. Lebih ke pemikiran atau statement kali ya, selain ttg pendidikan juga yg kemaren terkait lagunya itu seolah yg baik2 dan wajar2 aja itu munafik dan pencitraan. Jadi terganggunya di situ sih. Itu menurutku ya hehe.

  3. *sigh* semacam speechless ya Chris. Kelihatan banget dr cuplikan itu bahwa si dedek satu ini mengutamakan kesombongannya. Duh dek dek…. Justru dari komentarnya itu malah membuktikan dia butuh sekolah haha. Semoga yaaa followersnya lebih bijak darinya 😔😔

  4. sekolah emang bukan segalanya tapi tetep penting!
    emang kita tau lah banyak orang sukses walaupun sekolahnya gak tamat. karena memang mereka ‘exception’. 😀 tapi kalo si awkarin ini kok gua gak yakin ya. kayaknya cuma aji mumpung aja dan gak bakal long lasting.

    orang2 yang sukses walaupun gak sekolah itu biasanya emang pinter dan punya rencana. once again sama si karin ini gua gak yakin dia punya rencana buat masa depannya. suatu saat kalo dia udah gak (dan gak bisa maintain) kepopulerannya ya bakal ilang lah semua kesempatan dia buat nyari duit.

    1. Setuju banget Man, sekolah itu penting… masalahnya si Awkarin ini sekarang terkenalnya gara2 kontroversi, macam kardashian aja hahahaha.. dia emang berkarya sih nyanyi juga sekarang tapi kan kita tau gimana jalannya bisnis entertainment itu yaa…

  5. Chris, nemu aja artikel begini haha saking mengulik penasaran kehidupan dia ya. 1 M follower? Wow, sebanyak itu ya. Bombastis! Exception itu menurutku kalau karyanya memang sudah diakui keberadaannya secara luas, bermanfaat dan mempunyai value. Karya nyata ya bukan hanya sensasi belaka. Dan memang ada pengakuan luas dari segala kalangan kalau mereka exception. Kalau diri sendiri yg bilang exception, hmmm entah apa namanya. Semoga ga banyak yg keblinger dengan “petuah”nya ini. Semoga masih banyak followersnya yg bisa berpikir waras dan bijaksana.

    1. Hahahaha aku kebanyakan waktu luang kayaknya Den, nemu aja yg gini2 😛 Iya banyak banget yah, dan kayaknya mayoritas anak kecil.. makanya itulah aku mirissss 😦

      Iya bener banget Den, exception itu harus udah terbukti ya karyanya.. dan pastinya gak bisa instan ya dong prosesnya 🙂

  6. INI banget! Semua yang di post ini udah mewakili perasaan/pemikiran aku tentang si Awkarin ini. Gemes campur kesel banget liatnya, karena dia nyia2in kesempatan pendidikan yang dia punya, padahal banyak banget orang2 di luar sana yang berjuang susah payah buat sekolah. Prihatin banget yang kayak gini jadi idola/role model ABG2 yang kebanyakan masih labil, dan terkenalnya juga gara2 sensasi dan drama pula. Haduh. Semoga fans2 Awkarin tetep bisa mikir kritis ya. Btw ada tulisan bagus tentang ini, https://inineracauan.wordpress.com/2016/07/22/tentang-karin-awkarin-novilda-line-dan-liverpool/

    1. Gemes yaaa Dix, cuma kayaknya udah ada damage nya nih ya, kayaknya udah banyak dedek2 yg menganggap dia jadi role modelnya huhuhu 😦 asal jangan banyak2 deh.. masi berharap aku banyak yg berpikir kritis..

      Iyaa aku udah baca tulisannya, TFS yaa! bagus!

      1. Iya Chris, sedih deh bacanya. Mengutip kata Michelle Obama di salah satu talk-nya ke para remaja, “There is no boy, at this age, cute enough or interesting enough to stop you from getting an education.” Jadi pengen bikin campaign semacam ‘Books Before Boys’ untuk para remaja.

  7. obrolan antara aku sama temen temen udah mereda nih tentang dedek emesh ini. Tapi waktu dulu baca artikel ini, langsung ngelus dada.
    orientasi dia selalu uang. dan sedihnya banyak dedek dedek lain yang menganggap dia keren dan dijadiin panutan. like, why? 😦

    1. Aku juga tadinya udah reda Tash, eh baca artikel ini langsunggg shiokkk terus gatel mau nulis hehehe. Di jaman socmed ini kayaknya kok semua berpaku pada fame and fortune ya. Hiks

  8. Gara-gara baca blog nya Mbak Chris, baru tau ada tulisan itu. Soalnya prinsip aku, ‘stop making st*p*d people famous’, jadi klo ga penting-penting banget, jangan deh di ‘kulik’ dalam-dalam, soalnya emang itu sistem ‘marketing’ mereka, dan sayangnya (pake banget) kebanyakkan orang ‘endonesah’ masih punya kebiasaan kayak gitu. Yaaa.. gw juga orang endonesah, cuma daripada geleng-geleng-in kepala sama ngelus dada (ga tau dada siapa :P) mending gw yang ‘STOP’.

    Sebetulnya ga bisa nyalahkan siapa pun atas opini atau tulisan yang di angkat tentang ‘ABG’ kontroversial ini, karena nyatanya ‘cekkokan’ dalam kehidupan sehari-hari semuanya berujung pada ‘money and fame’. Mereka-meraka yang labil, mengatasnamakan eksistensi hanyalah seputar itu dan itulah di sebut ‘sukses’. Sekarang yang katanya sudah ‘modern’, justru sebuah ‘sukses’ tidak lagi menitikberatkan hal-hal itu, tidak mengenal arti kemandirian, atau sesimple bersikap sopan terhadap generasi ‘tua’. Bahkan ironis dan mirisnya, ‘sukses’ yang tercipta di jaman kekinian yaa.. memang hanya sekedar ‘money and fame’. Karena tidak ada lagi penjabaran sebuah ‘proses’, namun hanya hasil ‘instan’ yang selalu di kedepankan. Sampai akhirnya kegagalan di anggap tabu, dan ‘uang’ sebagai solusi yang dapat menutupi 😦

    Ada poin yang menurut gw sedikit ‘maklum’ bahwa pendidikan itu memang tidak harus di dapat di bangku sekolah atau kuliah pada lembaga pendidikan tertentu, tho nyata nya trend juga yang namanya ‘home schooling’ dan tidak di pungkiri ada juga yang memilih otodidak. Tapi gw termasuk yang percaya juga bahwa pendidikan di sebuah lembaga mencipatakan manusia yang lebih ‘beradab dan beradaptasi’ 🙂

    Thanks ya mbak chris info nya. Sebtulnya bukan awkarin aja cih yang punya pandangan seperti itu, bahkan hampir banyak generasi muda seperti itu, kebetulan aja sekarang dia yang lagi ‘diatas’.

    Hahahaha.. sorry ya jadi komen panjang *tutup muka, lari terbirit-birit* :))

    1. Jangan lari dooonggg hehehe. makasih ya komennyaa 🙂

      Iya aku setuju emang sekarang ini yang dibahas seringkali money and fame 😦 miris ya. Dan lagi2 setuju kalau pendidikan memang nggak harus di dapat di bangku sekolah, tapi tetap ada perlunya untuk mengenyam pendidikan formal, untuk ngenalin sistem gitu… ya gak? hehehe..

  9. Dek Awkarin kamu bukan exception kamu hanya drama queen yang entahlah bikin speechless. Ngeri ya chris….duh yang baik2 dan berprestasi kek yg di wawancara. Stop making stupid people famous…setuju ama komen diatas

  10. omg, aku baru baca artikelnya dan aku pengen nangis mba Christ. Yang aku bingung, kemana kedua orang tua Awkarin? apakah mereka tau kalo anaknya memberi dampak buruk untuk ABG2 kita. Kayaknya hanya ortunya lah yang bisa meluruskan kembali prilakunya.

    1. Ah, itulah.. orang tua nya gak tau sih.. mungkin sudah maklum, karena sempet baca2 sepertinya hubungannya baik2 aja.. jadi orang tuanya pasti menerima apa adanya yah?

  11. paling ngeri kalo lagi liat komen ig-nya sih Mbak Christ, karena isinya hastag relationshipgoal dkk gitu x_x
    duh kalo melihat adek-adek yang masih smp dan sma ini…semoga punya landasan yang kuat deh biar ga gampang ngikut kalo ada terpaan macam awkarin gini. Dan semoga portal2 beritapun brenti bikin ornag kayak gini makin terkenal ><. Aku setuju sama komen yang diatas

  12. Aduh bacanya sedih bangettt 😦 Sekolah itu penting, dek 😦
    Semoga media-media berhenti ngasih spotlight ke anak ini. Miris banget liat kelakuan2 dia, merusak moral anak2 muda lainnya.

  13. Cukup lama gw gak komentar soal awkarin karena gw bingung dimana gak sregnya. Soal foto-foto dan beradegan mesra, oh well, itu mah plek -plek niru majalah teen barat. Gw ga mau terjebak slut-shaming dan ngomentarin urusan pribadi.
    Kebebasan finansial, okeh, jempol buat itu. Tapi abis itu duitnya mau buat apa? Kalo dia bisa buka lapangan kerja dan bikin hidup orang sekitarnya lebih baik, baru gw salut.
    Dan yang paling salah dari mengidolakan awkarin menurut gw adalah anak itu sama sekali ga respek sama orang lain, ga punay emphaty dan ga mau susah-susah belajar. Ciri-ciri generasi instan-kah? Keberhasilan awkarin seolah jadi jalan pintas buat sukses dan bahagia. Gw rasa ada yang salah kalau mau contoh Mark Zuckerberg cuman dari “ga lulus”-nya doang. Semoga media lain yang menampilkan cewek ini bisa lebih cerdas membahas awkarin, ga cuma nyorotin kaya dan terkenal doang.

  14. Sebenarnya si Awkarin ini pinter ya tapi pemikirannya cetek bgt soal org yg sekolah tinggi..
    Waduhhh, sombong bgt juga omongannya..
    Entah knp org pd suka nge follow dia..

  15. Prinsipnya anti mainstream ya. Disaat semua orang mati-matian sekolah demi kesempatan yang lebih baik, dia berpendapat sebaliknya. Aku terus terang sangat terpukau.

    Terus prinsip sekolah di luar negeri lebih baik itu, aduh ampun deh, gak bisa komentar lagi.

    1. Makanya Tje, aku tuh diem aja deh soal relationship dia dan gaya berpakaian dia yg buka2an.. itu sih masih banyak yg lebih “wow”, nah begitu ngomongin pendidikan aku shooockkk… begini banget pemikirannya?!

  16. Aku pernah baca gimana si Karin ini akhirnya gak jadi masuk fakultas kedokteran gara-gara masalah percintaannya itu. Iya sama pacar yg udah putus itu. Langsung di otakku terngiang2 kata2nya Michelle Obama: there’s no boy cute enough to get in the way of your education.

    Aku juga baru bikin post tentang education for girls tapi baru akan dipost minggu depan. Gemes deh, jaman skrg kok makin bnyk orang yg menganggap sekolah/kuliah itu gak penting.

    1. Yaampuuuunn seriusan itu? kayaknya itulah dia makin besar kepala ya,udah tau bisa diterima di FK yg susah itu, terus dilepas gitu aja…

      Aku tunggu postnya Ngel 🙂 udah lama ngga BW hehehehe

  17. Astaga, kalo ada yg bilang si aw-aw ‘sok’ mungkin mba Christa udah bener menilai hehe krna dibuktikan dari statement kalo kuliah itu gak penting aplagi dia membandingkan dengan standar pendidikan di luar negeri, ‘kuliah di Indo itu pembodohan’ hmm.. yg udah pernah sekolah diluar negeri aja, belum tentu bkalan blg begitu… beteweh great post! Mba Christa 🙂

  18. Jujur aja saya bingung. Entah kasihan pada Awkarin atau pada teman-teman yang mengomentari artikel ini.
    Mari kita berpikir lebih OBJEKTIF. Saya tidak ingin membahas soal tingkah-laku Awkarin. Saya hanya ingin memberikan argumen pada pendapat Awkarin tentang pendidikan. Tak bisa dipungkiri jika ia adalah seorang yang cerdas. Pada suatu kesempatan saya melihat vlog-nya, di mana saya terkejut melihat koleksi buku yang ada di kamarnya. Entah dibaca atau tidak, itu lain soal.
    Saya coba menyodorkan satu hipotesis: bagaimana seandainya Awkarin pernah/senang membaca essai pendidikan yang ditulis oleh pemikir-pemikir sekelas Paulo Freire, Ivan Illich, Leo Tolstoy, Albert Camus, Rene Descartes, Thoreau dan masih banyak lagi. Jika teman-teman belum membaca, saya sangat menganjurkan untuk membacanya.
    Dalam essai-essai yang dituliskan oleh beberapa tokoh tersebut, satu benang merah yang disimpulkan adalah: Menolak Sistem Pendidikan.
    Kita pasti pernah mendengar kalimat Albert Einstein, “Semua manusia terlahir jenius”. Yah, kita semua memang jenius–lalu kemudian sekolah merampas kejeniusan itu. Sekolah menjadikan kita kaum terdidik, bukan kaum kreatif. Sejauh mana sekolah dapat menjamin bahwa mereka yang lulus UN, lebih kreatif dibanding yang tak lulus?
    Sekolah (gelar) membawa kita pada kelas tersendiri. Kita dihormati oleh mereka yang tak makan bangku sekolah. Kita menjadi orang yang lebih “berhak” untuk memimpin, tinimbang saudara-saudara kita yang tak/putus sekolah. Kehidupan yang layak hanya untuk kaum yang bersekolah. Pemerintah–pemilik kurikulum–membuat sebuah keadaan yang di mana mengaleniasi saudara-saudara kita yang tak bersekolah.
    Pernahkah kita merasa minder, saat dalam sebuah acara keluarga–kita harus berkumpul dengan sanak yang pendidikannya lebih tinggi. Sejurus kemudian orang tua dengan dalih motivasi membandingkan kita dengan keluarga tersebut. Jika anda merasa minder, berarti kita sama! Sama-sama sukses menjadi korban industrialisasi pendidikan.
    Adakah otonomi di dalam sekolah? Kenapa kita yang berpayah-payah sekolah selama tiga tahun, mesti berhadapan pada penentuan nasib bernama UN?
    Pertanyaanya, jika tak bersekolah kita bisa apa?
    Mari kita kembali kepada kalimat indah dari Albert Einstein, yang telah saya singgung sebelumnya.
    Adakah kita mesti bersekolah agar kita bisa berjalan? Adakah kita mesti bersekolah agar bisa berbicara? Saya sendiri–kata ayah–sudah bisa membaca–diajar oleh ibu–sebelum dimasukkan ke Sekolah Dasar.
    Oh, iyah, apakah Anda pernah lihat dukun beranak di kampung? Adakah beliau ikut Sekolah Kebidanan sebelum membantu puluhan bahkan ratusan ibu-ibu bersalin di kampung?
    Benar kata Einstein, kita terlahir jenius. Tapi sekolah merampasnya. Hanya sekadar berhitung tak perlulah kita sekolah belasan tahun.
    Kembali ke Awkarin, di luar dari sikapnya yang agak nyeleneh. Semoga kelak lahir lebih banyak lagi kaum-kaum merdeka–yang ditindas oleh kurikulum rakitan pemerintah–yang dapat menginspirasi kita.
    Kelak, ketika teman-teman tahu bahwa sejarah didirikannya sekolah adalah murni faktor ekonomi dan bukan untuk mencerdaskan masyarakat–Semoga teman-teman tak lagi nyinyir jika ada saudara kita yang menolak bersekolah.

    Ini murni opini pribadi saya.
    Saat ini saya sendiri tengah menjalani tahapan industrialisasi pendidikan sebagai mahasiswa jurnalistik, semester tiga.
    Salam hangat, Adnan Ilham.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s