LA Pride Parade 2018

Hari Minggu yang lalu saya dan R pergi ke La Pride Parade di daerah West Hollywood. Disini, West Hollywood memang terkenal sebagai kota yang permisif terhadap gaya hidup LGBTQI. Biasanya, daerah ini selalu ramai kalau akhir pekan, karena banyak bar yang sering didatangi orang – orang dengan gaya hidup tersebut. Pride Parade nya sendiri berlangsung di hari Minggu siang bolong, dari jam 11 hingga 2 siang.

Oh iya, sebelum lanjut, kalau kamu merasa tidak nyaman dengan topik ini, silakan skip aja bacanya ya dan sampai jumpa di Selasa Indonesia berikutnya 🙂

Saya dan R tiba sekitar jam 12 siang, jadi kami nggak nonton awalnya parade. Kami mencari tempat yang teduh di hampir penghujung parade, jadi enaknya bisa melihat hampir semua rombongan yang lewat. Ini adalah parade pertama yang kami datangi berdua. Kenapa saya datang? Nanti ya diceritain, hehe.

Sebelum romongan parade nya datang, saya sempat membayangkan bahwa parade nya akan penuh dengan rombongan berkostum pelangi warna warni, dengan atribut ceria dan meriah. Ternyata, nggak semua romongan parade seperti itu. Ada beberapa rombongan yang meriah banget, tapi ada juga yang biasa aja, “cuma” jalan serentak bawa bendera pelangi dengan kaos seragaman, mirip acara gerak jalan 17-an gitu. Nggak ada yang berpakaian tidak senonoh karena parade ini merupakan parade yang terbuka untuk semua umur, jadi semuanya masih dalam batas wajar bagi pandangan mata.

Peserta parade kemarin selain beberapa organisasi kemanusiaan, organisasi kemasyarakatan, juga banyak perusahaan dan politisi. Kalau dua yang terakhir ini kayaknya sekalian kampanye kali ya hehehe. Ada salah satu perusahaan yang membawa spanduk dengan tulisan kalau perusahaannya tidak mendiskriminasi seseorang dengan gaya hidup LGBTQI. Mungkin bagian dari kampanye HRD supaya bisa menjaring karyawan baru. Begitu juga dengan para politisi, mereka mengkampanyekan bahwa mereka akan mengusahakan dihapusnya diskriminasi terhadap orang – orang dengan gaya hidup LGBTQI. Karena, walaupun banyak orang menganggap di Amerika sangat bebas, rupanya masih banyak juga lho kasus – kasus diskriminasi.

Yang juga saya perhatikan dari parade nya adalah betapa mengharukannya melihat orang – orang ini merayakan jati diri mereka. Saya lihat ada pasangan sesama jenis yang sudah kelihatan sudah cukup umur jalan berdua dengan baliho bahwa parade kali ini adalah parade ke 47 bagi mereka. Berarti mereka sudah bersama selama 47 tahun dong ya! Nggak kebayang perjalanan yang mereka sudah jalani dari awal mereka bersama. Si kakek (saya sebut kakek aja deh abis kelihatan sudah berumur) sempat meluk saya waktu saya teriak “happy pride” ke dia waktu lewat. Aw, sungguh mengharukan.

Saya sempat dapet pertanyaan dari seorang teman ketika dia tau saya dan R datang ke Pride Parade ini. Ngapain? katanya. Saya bilang, sebagai orang yang ngakunya hopeless romantic, saya tuh suka sedih lihat cerita orang – orang di Indonesia yang nggak bisa melela. Saya nggak kebayang, gimana rasanya memendam perasaan kepada dunia. Saya beruntung karena saya pilihan gaya hidup dan cara saya memandang diri saya termasuk normal bagi masyarakat. Tapi, nggak kebayang kalau saya harus menyembunyikan jati diri saya dari masyarakat, apalagi kalau harus menyembunyikan perasaan bagi seseorang. Menurut saya, perasaan nyaman terhadap jati diri sendiri, termasuk bagaimana cara kamu memandang diri sendiri, dan juga bagaimana seseorang mengekspresikan ketertarikan terhadap orang lain, adalah salah satu hak asasi yang perlu diperjuangkan. Makanya saya memutuskan untuk datang ke Pride Parade kemarin, untuk orang – orang yang saya kenal di Indonesia yang nggak bisa melela di Indonesia karena seribu satu hal. Semoga walau kalian nggak bisa melela, tapi kalian tetap bisa merasa at peace dengan jati diri kalian 🙂

Advertisements

17 thoughts on “LA Pride Parade 2018”

  1. Pernah datang ke Gay Pride di Amsterdam tahun 2015. Posting foto di FB eh malah dikatain macem2. Yg paling ingat dikatain “mau jadi LGBT juga ya?” Dan “kamu mendukung LGBT ya Den?” Sampe musti nulis uneg2 di blog perkara ginian (dan kamu juga komen waktu itu). Kenapa sih mau nonton parade aja musti disangkutpautkan ke yang macam2, dipikir ini dan itu. Kenapa ga dinikmati saja kemeriahannya. Kalau ingat2 itu jadi sebel sendiri. Pada Mabok agama deh orang2.
    Setuju dengan semua yang kamu tuliskan Christa.

    1. Iyaa aku inget kamu pernah dateng Den, susah ya kenapa masih banyak orang Indonesia yang nggak bisa mikir terbuka. Tapi ya sudahlah, semakin kesini aku semakin mikir, urusan dia urusan dia.. urusan aku urusan aku. Toh orang2 itu nggak bayarin bills aku, jadi aku gak perlu nyenengin mereka hehehehe

    1. Ooohh nggakk.. melela itu bukan artinya coming out of the closet? aku disini nggak come out, cuma bersimpati dan ikut senang terhadap keriaan parade kemarin 🙂

  2. Ya, aku sedih kalau lihat di beberapa tempat LGBTQ diburu seakan mereka bukan manusia. Biarlah mereka hidup sesuai pilihan mereka selama mgga ganggu orang lain.

    1. Iya aku juga sedih kalo kayak gitu. Masa kemarin pas aku post di Instagram, ada yang kirim aku DM.. “iih kaum gay ya? jijay” really? Kayak apaan aja. Mau nanggepin sampe kehilangan kata2, karena orang kayak gitu pasti nggak bisa dibantah.

  3. Ah suka banget dengan tulisanmu ini Christa. Setuju banget dengan semua yang kamu tulis. Pingin deh suatu saat hadir di Pride Parade seperti ini :’) I believe everyone deserves the freedom to love whoever they want.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s