I Have Less Friends Now, and That’s Okay

I was on my lunch break at work and I saw an instagram story by a friend of mine. We first met through blog back in the days, but somehow got into the same university although different colleges. She posted something where she tagged, surprisingly, another friend of mine. Friend number 2 and I went to the same college in university. I didn’t know friend number 1 and number 2 know each other… until I realized that they were at one point, colleagues.

Ah, small world. That’s Jakarta to me. When I still lived there, I had a multiple circle of friends, and I found joy in finding connections between my circles. I would often be part of, or even host multi-circle gatherings, which may consist of my classmates, and then a friend’s classmate, or another friend’s colleague… you get the idea. I would meet new people, new friends, and the circle would keep growing, hahaha it does sound tiring now as I’m writing this but there was a time where I was happy to be a part of it.

Seeing the instagram story today made me realize that here in the United States, I don’t have that many friends, and I don’t think I ever will. I only have 2 circle of friends, one that I know from my husband and one that I know myself. At one point I tried to expand my circle, I tried to make friends at university, or even at my Barre class, but none actually made it past the “acquaintance” or “social media friends” part.

I have a good relationship with the people from work but it’s hard to consider them as part of my circle. I think my perception of friendship changes over time, and for the most part, being an immigrant has a lot to do with it.

As an immigrant, I think I’m keeping my circle small, but that circle is my extended family. As an immigrant, I have to rebuild my network, similar to what I did growing up in Jakarta, but here, they way I’m building it is purely for business. There’s got to be something in exchange. And that’s okay.

I used to think that making friends is the biggest struggle as an immigrant. I understand why, considering how social I was back home. But now, as time passes, I realize that it’s not the case. The biggest struggle is actually comparing things here vs back home. Once I do it less (hard to say that I completely avoid it), I came to understand and accept that I have less friends now, and that’s okay. After all, quality > quantity, right? 🙂

Series of thoughts

I dont even know what 4th of July is supposed to mean. Independence Day, sure. But the more I read, the more I begin to question.

I don’t understand Indonesians’obsession with uniform. “Oh, here’s a matching kitchen towel for you, it will look nice”. “Let’s all buy this pink kaftan to our cousin’s wedding”. Why does it have to be the exact same pink kaftan? Why can’t I wear my own pink kaftan that I brought from Indonesia, one that I’ve prepared for special occasions like these? I can understand dress code and color code.. but uniform?

I miss my family and friends so, so bad. Of all the things that are happening in Indonesia, nothing I want more than being able to see them in person. So until then, I can only pray for their health and safety. Until then.

I feel like I’m at this weird position where I feel really blessed to be able to write this post while enjoying my brunch at a coffee shop, but at the same time I am holding down my tears because as soon as I start to think “aaah this is nice” while sipping my coffee, I thought of my mom and brother who hasnt been really out from their home for 1,5 years now. That was a weird sentence, but I guess it represents my thoughts lately. Cluttered.

I feel bloated lately but most days I dont have the energy to exercise or even go out. I just want to leyeh-leyeh all day.

I am obsessed with Jang Kiyong and Hyeri in My Roommate is a Gumiho. The series is so unrealistic (it’s a fantasy romcom anyway), but it makes me smile, it’s light and filled with fluff, exactly what I need this time.

Thank you for reading my thoughts. I’ve finished my coffee and I’m going home. We’re making Bakso for lunch, my inlaws are coming over. Stay safe and healthy, friends!

Demam Korea

Kayaknya ini coping mechanism terbaru saya deh. Sejak awal pandemi tahun lalu, saya disuruh teman nonton Crash Landing on You kan. Episode pertama nggak doyan, tapi karena ngga ada kerjaan, lanjut terus. Makin lama nyangkut, akhirnya malah sampai jadi ngefans banget sama 2 tokoh utamanya. Hyun Bin dan Son Ye Jin.. awww seneng banget pas tau mereka akhirnya pacaran beneran.

Waktu awal – awal nonton CLOY itu saya cukup kaget lihat betapa banyaknya konten yang tersedia untuk para fans. Mulai dari cuplikan behind the scene, interview sama pemain, post di social media.. banyak banget! Jadi penonton tuh rasanya dimanjain banget. Rasanya, selama ini nonton series Hollywood nggak ngeh liat materi promosi sebanyak ini. Atau emang nggak pernah perhatiin aja?

Jadilah setelah CLOY, muncul kebiasaan baru. Nonton drama Korea, kalau cukup suka dengan aktor/aktris nya, mulai mengkonsumsi konten – konten lainnya. Liatin BTS, nontonin interview, cari tau background si aktor/aktris, sampai dengerin soundtrack nya. Paket lengkap! Yang hasilnya, kalau lagi mengikuti suatu drama tuh bisa kebayang bayang sampai kebawa – bawa kemana – mana gitu… misalnya, manggil suami dengan panggilan ala Korea hahahaha ampun deh.

Sejak tahun lalu itu, saya udah cukup banyak banget nonton drama Korea lain.. sampai memutuskan buat langganan streaming service khusus konten Asia. Nggak tanggung – tanggung… 2 sekaligus, Viki dan IQIYI.

Hampir jarang nonton Netflix, Hulu dan sebagainya kecuali buat nonton serial yang emang udah saya ikutin kayak The Handmaid’s Tale atau Kims Convenience. Tolong laaahh… (Ini minta tolong tapi sebenernya sih doyan2 aja kebombardir konten Korea gini hahaha).

Tambahan lagi, saya juga ketemu genre musik Korea yang saya suka, yaitu R&B. Ternyata banyak banget lagu K R&B yang menarik! Kalo kamu suka musik juga, coba deh dengerin semacam Dean, Crush, Offonoff, Heize, Zion.T… nah loh banyak juga. Bisa cari di Spotify playlist2 yang judulnya Korean R&B atau Korean Indie Chill, hehe.

Last but not least rumah saya disini tuh cuma sekitar 10 menit dari daerah yang banyak komunitas Korea nya! Ada supermarket Korea, ada restoran Korea, butik Korea, kafe Korea sampai tempat pijat Korea ada juga. Lengkap deh. Saya dan R cukup sering ke daerah itu, bahkan saya udah ketemu salon Korea yang udah jadi langganan juga hahahaha.

Demam Korea yang saya alami ini cukup keliatan sih di kalangan teman – teman disini. Sekarang, kalau ada apa – apa yang bau Korea, mereka pasti nunjuk saya hahaha. Siapa sangka, pandemi bikin saya demam Korea gini. Kalau mengutip Jo, katanya sih semua akan Korea pada waktunya… hihi.

P.S: Draft ini ditulis udah beberapa minggu lalu, tapi saya tambahin bagian terakhir ini ya sebelum di publish.. pengen kirim semangat dan doa baik untuk teman2 semua, semoga sehat, selamat, dan bahagia. Take care!! 🙂

5 Months On The Job

Waktu pertama kali nulis draft ini, gue baru sekitar sebulan kerja. Ternyata sekarang udah masuk bulan ke-5 hahaha, telat banget deh. Jadi judulnya diganti lah. Anyway ini tulisan singkat aja, mumpung lagi lunch break nih ehehe… pengen cerita beberapa hal yang udah gue pelajarin selama kerja dan juga beberapa perbedaan atau persamaan situasi kerja disini dan di Jakarta dulu.

Hal – hal yang gue pelajari

Jadi gue kan cukup baru ya di posisi sekarang ini. Udah gitu industri nya juga baru, teknologi. Untuk posisi gue, yaitu Customer Success, salah satu skill yang penting banget dimiliki adalah skill mendengarkan. Gue liat rata – rata penyebab masalah muncul atau masalah susah diselesaikan tuh karena salah satu pihak kurang ngedengerin pihak lainnya. Kalaupun iya, kayak nggak bener – bener di dengerin gitu loh, cuma sebatas lalu aja.

Jadi gue lagi belajar, pentingnya ngedengerin lawan bicara gue dalam kerjaan. Apalagi customer. Penting banget buat gue untuk bisa mengerti masalah yang dia hadapi, kemauan dia, dan bahkan background nya si customer supaya gue bisa kasih solusi paling baik buat dia.

Terus karena gue kerja di perusahaan kecil yang modelnya seperti start up, gue jadi belajar buat wear many hats di kerjaan gue. Iya titel resmi nya customer success tapi gue juga kerjain marketing, project management, dan sebagainya. Hal ini cukup bikin kaget karena selama ini perjalanan karir gue di perusahaan multinasional yang udah punya struktur jelas, semua ada scope nya masing – masing.

Satu lagi, gue belajar jadi mentor! Hihihi. Salah satu program di kantor gue ini adalah mentorship, dimana karyawan baru di pasangin sama karyawan yang udah lebih lama. Walaupun gue baru 5 bulan, tapi per minggu ini gue kedapetan 1 mentee yang baru aja masuk hari Senin kemarin hehe. Jadilah gue musti belajar gimana jadi mentor yang baik dan juga memastikan dia bisa maju dalam kerjaannya dia. Bagian ini cukup membuat gue semangat sih.

Perbandingan Kerja di US dan di Indonesia

Kayaknya untuk sekarang gue gak bakal cerita terlalu detail untuk bagian ini, secara dari segi waktu perbandingannya belum banyak. Tapi satu hal yang mulai berasa, disini kayaknya agak lebih susah dapat kolega se-asik waktu kerja di Indonesia huhuhu.. rata -rata disini kolega ya jadi kolega aja, nggak lantas jadi teman deket banget bangetan kayak waktu gue kerja dulu di perusahaan minuman (you know who you are!).

Sebenernya masih mau cerita lebih banyak tapi jam makan siang udah mau kelar, jadi nanti di lanjut yaa.. hehe. Semoga teman2 semua sehat ya! Until next time! 🙂

Memorial Day Weekend 2021

Hari Senin kemarin, tanggal 31 Mei di Amerika tuh ada libur nasional yang namanya Memorial Day. Karena jatohnya di hari Senin, lumayan lah ya long weekend! Banyak yang bilang kalo Memorial Day Weekend tuh semacam unofficial start of summer… karena cuaca mulai panas dan mendukung banget buat vakansi. Ditambah lagi situasi post-covid disini udah mulai membaik banget, kami berdua sudah di-vaksin full dan begitu juga dengan kebanyakan orang sekeliling kami. Baca berita, pemerintah juga sudah mulai membuka jalan untuk kehidupan kembali seperti normal, dengan tindakan2 preventif yaa tentunya. Akhirnya kami memutuskan untuk liburan juga nih. Pengennya siiiih ke Indonesia yaa tapi apa boleh buat cuma punya libur 3 hari. Masih anak baru di kantor, belom dapat cuti berbayar.

Continue reading “Memorial Day Weekend 2021”