Bye / Halo!

Saya mengawali tahun 2015 ini dengan sebuah perubahan. Dibilang krusial, nggak juga, walaupun perubahan ini menyangkut salah satu status yang saya pegang.

Oke sebelum pada mikir macem – macem, saya belum dilamar dan belum akan berubah status marital hahahaha. Ini maksudnya perubahan titel di pekerjaan karena saya akan meninggalkan titel saya yang lama, dan memegang titel baru di divisi yang baru… Mulai besok.

Walau masih di perusahaan yang sama, perubahan ini bagi saya agak signifikan karena selama ini karir saya di perusahaan ada di bagian strategic planning, tapi kini akan pindah ke bagian sales. Masih di Head Office sih, jadi akan masih banyak planningnya juga… Tapi tetap berbeda.

Mengikuti kepindahan divisi, saya juga akan pindah tempat duduk, beda lantai dengan yang dulu.

Jenis pekerjaan tentu akan beda, tempat duduk beda, rekan kerja beda, bos pun beda. Saya agak deg-deg an sih, apalagi ini kepindahan pertama saya dalam 3 tahun terakhir.

Tadi, sebelum saya pulang, setelah beres – beres laptop dan meja, saya menghampiri kubikel bos saya. Niatnya mau pamit dan sekalian bilang terima kasih. Kita ngobrolin kerjaan bentar, trus akhirnya saya bilang (dalam bahasa Inggris, tapi disini saya terjemahkan lagi ke dalam bahasa Indonesia supaya tulisan saya konsisten, hehe) “Terima kasih sudah menjadi bos saya selama 3 tahun terakhir”. Trus dia membalas “Sama sama, terima kasih sudah tahan dengan saya selama ini” sambil ketawa ringan. Oh, bayangkan suasana nya tuh jauh dari drama ya, santai banget deh. Kemudian saya pamit pulang, udah sih gitu aja.

Pas saya balik ke meja, tiba – tiba saya berasa “deggg” gitu. Kayak sedih mendadak sampai berasa ingin nangis. Saya emang rada lumayan melankolis sih untuk hal – hal tertentu, tapi saya ngga nyangka kalau bisa merasa sedih pas hari terakhir saya di divisi strategic planning ini. Drama nya makin membara ketika pas saya lagi di lift mau turun, saya meneteskan air mata!

Hahahaha, nulisnya sekarang rada bikin ketawa sih, tapi tadi itu saya sedih beneran rasanya. Nggak sampai nangis sesenggukan sih, tapi ada lah beberapa tetes air mata udah keluar. Yang bikin makin konyol, tiba – tiba lift terbuka dan saya ketemu teman baik saya di kantor. Dia lihatlah saya lagi nangis gitu. Akhirnya saya bilang deh, sambil ketawa tapinya.

Saya bilang ke temen saya itu, sedih juga akan keluar dari tim yang sudah membuat saya mengalami peningkatan dalam karir, membuat saya tambah pintar, tempat belajar banyak. Sedih juga akan meninggalkan bos saya yang super mega baik. Baiknya ini bukan baik yang berlebihan lho, tapi juga fair banget. Saya merasa cocok dengan ritme kerjanya dan sedikit banyak gaya kepemimpinan saya juga jadi terinspirasi bos saya itu. Lebih lagi, saya sedih meninggalkan teman kerja yang menyenangkan dan tanpa drama. Hiksss.

Kata teman saya, kalau kita sedih meninggalkan sesuatu, itu berarti waktu yang dihabiskan ketika menjalani nya itu menyenangkan ya. Bener banget ya! 🙂

Udah sih, saya nggak lama – lama sedihnya. Malu juga depan umum hehehehe. Sekarang saya semangat menghadapi tantangan baru di pekerjaan baru yang akan dimulai… besok! Yay! Doakan saya ya teman teman 🙂

Advertisements

Makan Siang

Bagi pekerja kantoran di ibukota, makan siang bisa jadi hal yang gampang – gampang susah. Inilah masalah – masalah yang biasa muncul bagi para pekerja kantoran macam saya…

1. Mau makan dimana?

Ini pertanyaan yang tiap hari bikin pusing, hampir ngalahin pusing nya dapat kerjaan yang mendadak dari bos. Hahaha. Agak lebay. Tapi bener! Saya kebetulan punya teman makan siang yang tetap, alias makan siang nya sama dia lagi dia lagi. Formasi “geng” nya bisa berubah tiap hari tergantung siapa aja yang ikut, tapi ada 1 orang se-tim saya yang hampir setiap hari makan siang bareng saya. Setiap hari mendekati jam 12 kami saling tanya, “mau makan dimana?” trus jawaban nya sama – sama bingung hahaha.

Padahal sih kita termasuk beruntung karena lokasi kantor kita tempat makan nya lumayan bervariasi (buat yang belum tahu, kantor saya letaknya di sebelah mall favorit kita semua alias Pondok Indah Mall :D). Mau makan murah, bisa ke kantin supir di basement yang cukup bersih dan memadai. Mau rada mahal sedikit, naik lah ke food court mall nya. Kalau lagi banyak uang alias awal bulan, bisa makan di restaurant row PIM 2 atau juga street gallery PIM 3. Tinggal pilih. Tapi tetap aja kita sering bingung. Mau makan dimana?

2. Budget makan siang

Ini juga terkadang tricky. Saya lumayan beruntung, dekat kantor ada pilihan yang bisa disesuaikan dengan budget. Tapi saya tahu ada beberapa teman – teman saya yang tidak seberuntung itu. Kadang mereka tidak punya pilihan lain selain makan siang di restoran berkelas, karena tidak ada warung makan siang yang murah dan memadai. Nah, sekali makan di restoran itu kan biasanya menghabiskan Rp. 50.000-100.000. Kalau sekali – sekali sih nggak masalah, tapi kalau tiap hari kayak gitu, lumayan juga yaaa. 50.000 itu kalau dikalikan 20 hari kerja udah 1 juta rupiah lho! :O

3. Bawa bekal dari rumah

Banyak orang di kantor saya yang bawa bekal ke kantor. Lebih praktis, nggak perlu mikir mau makan apa, dan secara budget juga lebih terjangkau harusnya. Tapi masalah selanjutnya… Siapa yang masak? Hehehe. Kalau bapak – bapak di kantor yang saya lihat sih kebanyakan istri nya yang masak. Atau PRT nya deh. Teman – teman saya juga gitu, pasti dimasakin seseorang. Hampir jarang banget yang masak sendiri.

Kalau saya nggak pernah bawa bekal ke kantor. Di rumah nggak ada PRT, tapi saya sebenarnya bisa masak sih. Masalahnya…. saya merasa nggak pernah ada waktu untuk masak kalau hari kerja. Biasanya saya masak kalau akhir pekan, waktunya lebih banyak dan santai. Kalau hari kerja, pagi nya nggak keburu karena harus buru – buru berangkat ke kantor. Kalau malam, rasanya udah capek duluan. Hehehe banyak alasan ya :p Salut juga sama orang yang bisa masak subuh – subuh untuk bekal dibawa ke kantor… saya belum sanggup.

4. Nggak ada waktu

Kalau yang ini bukan masalah saya sih untungnya. Saya rasanya nggak bakal kuat kalau harus melewatkan jam makan siang karena sibuk kerja. Tapi saya sering juga denger cerita orang – orang yang terlalu sibuk jadi nggak sempat makan siang. Bos saya, seorang ekspat, juga gitu lho. Saya hampir nggak pernah lihat dia makan siang, padahal kubikelnya depan saya. Apa dia nggak ada waktu? Atau emang nggak hobi makan siang? Bagi saya, makan siang itu penting, jadi sebisa mungkin jangan sampai terlewat 🙂

Yah sekian “drama” makan siang saya. Kalau kamu biasa nya makan siang nya gimana? Selamat makan siang ya!

Nonton Film Silat : Pendekar Tongkat Emas

Saya sama sekali bukan penggemar film laga, apalagi film silat. Genre film favorit saya adalah drama komedi, hahaha. Jauh banget kan. Tapi ketika saya dengar ada film silat Indonesia yang beredar di bioskop dan dipenuhi artis – artis papan atas, saya mulai tertarik. Namanya Pendekar Tongkat Emas. Apalagi nama – nama yang terlibat di film nya sangat menjanjikan. Mira Lesmana, Nicholas Saputra, Christine Hakim, dan lain lain. Kemudian saya membaca review yang ditulis oleh Eka di Cerita Eka dan menjadi semakin tertarik. Akhirnya saya mengajak Ibu saya nonton film nya di Gandaria City XXI kemarin malam.

Saya tidak mempunyai ekspektasi tinggi ketika mulai nonton filmnya. Sekali lagi saya bilang, saya bukan penggemar film laga. Malah, saya sudah siap – siap banyak cemilan sebagai teman jikala bosan. Rupanya saya salah besar! 10 menit pertama saja saya sudah dibuat terpukau oleh narasi Christine Hakim sebagai Cempaka yang dilatar belakangi oleh pemandangan indah yang sungguh memanjakan mata. Saya terus – terusan berdecak kagum dan terpana selama 100 menit-an sesudahnya.

Filmnya bagus banget! Saya tahu film Indonesia masih banyak perlu diasah. Apalagi dengan maraknya film – film genre seksi/horor belakangan ini. Percayalah, film ini sama sekali tidak demikian. Tidak ada adegan yang tidak perlu dan dipanjang – panjangkan. Tidak ada adegan laga yang terkesan dipaksakan, tidak ada dialog – dialog canggung diantara para pemainnya. Semuanya sempurna.

Adegan silat nya mampu membuat saya menahan napas dan memegang kursi bioskop dengan kencang, dialog nya mampu membuat saya mengangguk – angguk. Saya sempat beberapa kali terbawa suasana ketika tokoh antagonis berantem dengan tokoh protagonis nya, ikutan merasa sebal, ikutan merasa tegang. Dan yang pasti, saya puas terbuai pemandangan indah dari lokasi syuting yang konon katanya berada di Sumba Timur. Ibu saya juga tak kalah terbuai oleh kain – kain tenun yang indah – indah dan kostum para tokohnya. Saya begitu bangga, bangga akan budaya Indonesia, bangga akan alam Indonesia, dan bangga akan industri film Indonesia. Saya harap film ini bisa melanglang buana dan membuat orang luar negeri (minimal) berdecak kagum akan keindahan alam Indonesia sama seperti kita berdecak kagum akan alam New Zealand ketika nonton Lord of The Rings atau The Hobbit.

Jadi filmnya tentang apa sih?

Film ini berkisah tentang dunia persilatan, hehe. Cempaka (Christine Hakim) adalah guru besar perguruan Tongkat Emas yang sangat disegani. Ia mempunyai murid – murid bernama Biru (Reza Rahadian), Gerhana (Tara Basro), Dara (Eva Celia), dan Angin (Aria Kusumah). Suatu masa, Cempaka meninggal dunia dan tongkat emas yang dimiliki nya jatuh ke tangan orang yang tidak seharusnya. Gawatnya lagi, Cempaka belum sempat menurunkan jurus pamungkas yang dimiliki nya kepada satupun murid – murid nya.

Bagaimana nasib perguruan Tongkat Emas dan dunia persilatan? Apa peran Nicholas Saputra disini? Hohoho, penasaran kan? Yuk nonton mumpung film nya masih beredar di bioskop 🙂

Silakan lihat official trailer nya sebelum kamu berangkat ke bioskop terdekat :

Tradisi di bulan Desember

Bulan Desember selalu jadi bulan yang ekstra bahagia buat saya. Namanya juga akhir tahun ya kan, aura liburan nya kerasa banget. Padahal 4 tahun kebelakang saya tidak pernah liburan di bulan Desember lho, tapi bawaan nya tetap suasana liburan, hehehe. Tambahan lagi, di akhir Desember saya berulang tahun, kebetulan pas di hari Natal. Saya pribadi tidak merayakan Natal sih, tapi Ibu dan keluarga besar saya merayakan, jadi saya ikutan merayakan kebahagiaan nya 🙂

Nah, dari kecil keluarga besar saya yang dari Ibu itu selalu punya tradisi kumpul – kumpul di malam Natal,  di rumah Kakak nya Opa saya di daerah Jakarta Pusat.  Tradisi nya begini.. Tanggal 24 sore, Ibu saya pergi ke gereja. Setelah Ibu selesai gereja, Saya, Ayah dan Adik menjemput Ibu dan kami makan malam keluarga (hampir setiap taun biasanya makan steak di Gandy Steakhouse Menteng), kemudian kami pergi ke rumah keluarga itu. Disana sebenarnya nggak ada acara spesial sih, kami makan lagi (!!!) hahaha, sambil kumpul – kumpul dengan keluarga besar. Oh iya, ada tradisi tukar kado juga di keluarga kami.

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/ad8/62165477/files/2014/12/img_1599.jpg
Pohon Natal di rumah keluarga kami, Natal tahun 2013

Jadi di rumahnya ada pohon Natal dimana kami bisa menempatkan kado di bawah pohon itu. Kemudian, kami melakukan countdown ke tanggal 25 dan tepat jam 12 malam kami semua saling salam – salaman. Keluarga besar saling mengucapkan selamat natal, tetapi khusus untuk saya, “selamat ulang tahun!” 🙂 Setelah itu kami mencari nama masing – masing di tumpukan kado dan sibuk buka kado sambil menebak – nebak secret santa kami. Tidak lama lewat jam 12, kami pulang dan siang hari nya open house di rumah, biasanya keluarga dari ayah saya datang untuk merayakan ulang tahun saya sekaligus memberikan selamat kepada Ibu, Oma dan Opa saya.

Sepanjang saya bisa ingat, tiap tahun begitulah tradisi nya. Tradisi nya tetap berjalan bahkan ketika Ayah, Oma dan Opa saya sudah meninggal dunia kira kira 7 tahun yang lalu. Kami tetap berkumpul, walaupun member nya berkurang :’)

Tetapi, tengah tahun ini, keluarga besar memutuskan untuk menjual rumah di Jakarta Pusat itu. Awalnya tidak ada pengaruh nya buat saya, tapi kemudian saya ingat.. dimana kami akan berkumpul di malam Natal nanti? Akhirnya setelah berdiskusi panjang, keluarga kami memutuskan untuk berkumpul di rumah tante saya. Selain perubahan tempat, salah satu sepupu saya punya ide untuk memberikan dress code bagi acara malam Natal nanti, supaya acara nya lebih meriah (dan lebih bagus kalau difoto! :p).  Pilihan dress code nya adalah hitam dan emas (soalnya merah dan hijau terlalu mainstream, hahahaha).

Adanya dress code berarti ada kesempatan untuk belanja, hahahaha. Namanya juga cewek, nggak jauh jauh dari belanja :p Saya kepikiran untuk pakai dress hitam dan kalung bernuansa emas. Eh, ngga tau deng soal kalung emas nya, soalnya sebenarnya saya agak males pakai aksesoris. Tapi yang pasti saya kini sedang mencari dress hitam. Pulang kerja kemarin saya sempat lihat – lihat di Pondok Indah Mall, tapi tidak ketemu yang sreg. Lalu saya browsing deh.

Pas lagi browsing, saya ketemu halaman koleksi dress hitam di Zalora Indonesia. Lengkap banget koleksinya! Ada banyak pilihan dress hitam berbagai model, mulai dari kasual hingga glamour. Harganya juga beragam, mulai dari 200ribu-an, lumayan banget kan? Gara – gara keasikan browsing dress hitam di Zalora ini, saya udah naksir 2 dress.. Hahaha, padahal niatnya nyari 1 aja. Gimana nih, bantuin saya milih dong teman teman, lebih bagus yang mana ya buat saya, antara Sheer Panelled Varsity Kimono Shift Dress atau Cape Sleeve Woven Dress? 🙂

Oke sambil saya menimbang – nimbang antara 2 dress tersebut, mari balik lagi ke cerita awal saya hehe, inti nya saya excited menyambut Natal, walaupun ada perubahan di tradisi, tapi tetap bisa kumpul dengan keluarga. Pada akhirnya itu yang paling penting kan 🙂 kalau kamu, ada tradisi spesial ngga di bulan Desember?

Hari Belanja (Online) Nasional

Saya baru tahu kalau hari ini di Indonesia adalah “Hari Belanja Online Nasional”. Namanya baku banget yah, tapi konsepnya persis kayak Cyber Monday di Amerika. Intinya kalau belanja online sepanjang tanggal 12 Desember ini bakal banyak diskon dan promo promo menarik yang menanti. Seru banget yaa? Hehehe :p

Saya tahunya dari berbagai email yang masuk ke inbox saya hari ini. Dari Zalora.com, Bobobo.com, LivingSocial.com, Maskoolin.com, semuanya ngasih kabar kalau berbagai diskon siap menanti saya di website mereka. Menggiurkan sekali yaa! Hehe. Sayangnya waktu saya buka Zalora.com, beberapa halaman di website nya sempat down jadi saya nggak melanjutkan browsing2 nya. Tadinya sih saya sempat berniat buat browsing lebih serius di jam pulang kantor nanti, yah namanya juga cewek, gampang banget tergoda kalau liat tulisan “SALE” hehehe. Eh tapi…

Pas jam makan siang, saya makan siang di Pondok Indah Mall. Kebetulan kan kantor saya letaknya di sebelah mall kesayangan kita semua itu, jadi setelah makan saya punya waktu buat liat – liat toko – toko nya sebentar. Rupanya nggak cuma online, tapi toko di mall pun rata – rata banyak yang mulai kasih diskon akhir tahun. Sepenglihatan saya tapi, Dorothy Perkins dan Topshop udah sale. Begitu juga dengan H&M! Ini dia yang bikin saya senang banget, hahaha.

H&M selalu jadi favorit saya buat nyari baju murah dan bagus sejak saya kuliah di Inggris. Kalo bicara kualitas, beberapa baju H&M saya yang beli di Inggris 4 tahun lalu masih bisa dipakai kok sampai hari ini 🙂 Makanya saya senang banget waktu liat H&M diskon. Masalahnya, begitu H&M masuk Indonesia, bajunya kadang tidak semurah di luar negeri (hmm.. mungkin karena perbedaan kurs rupiah terhadap mata uang asing?). Jadi kalau lagi diskon gini, besar harapan saya untuk mendapatkan baju murmer alias murah meriah!

Karena saya tidak punya banyak waktu, saya langsung ke rak – rak yang diskon. Rata – rata baju nya emang jadi lumayan murah sih, mulai dari 100 ribu rupiah. Ada juga dress pesta yang sekitar 200 ribu-an, lumayan kan. Saya mendadak lupa sama rencana belanja online dan mikir, “ah nanti aja balik lagi pas pulang kerja“, biar bisa lebih puas liat – liatnya. Pas banget sebelum saya mau keluar dari area sale yang sangat menggoda itu, saya melihat sebuah blazer yang agak oversized warna biru navy di-diskon 50% menjadi 200 ribu rupiah. Waktu dicoba, pas banget jatohnya. Saya naksir pada pandangan pertama. Kira – kira blazer nya kayak gini :

Image from : www.polyvore.com
Image from : http://www.polyvore.com

Tidak pakai pikir panjang, saya langsung memutuskan untuk beli. Buru – buru saya ke kasir, dan pas saya mau bayar… harga dikasir nya ternyata 150 ribu rupiah! Malah lebih murah! Waktu penjaga kasir nya bilang “Jadi 150 ribu ya Mbak“, saya berusaha tetap cool sambil ngeluarin uang untuk bayar padahal dalam hati seneng banget.. Hahahaha. Wanita manakah yang nggak seneng kalau udah diskon, dikurangin lagi harganya!

Judul tulisannya jadi kurang nyambung nih sama isinya.. ya sudah lah, inti nya sih hari ini saya nobatkan jadi hari belanja buat saya, walaupun bukan online! 😀

(Sepertinya) Nggak Jodoh?

Jadi begini. Saya kan menghabiskan 5 tahun belajar marketing and communications. 4 tahun pertama dihabiskan untuk belajar seputaran bisnis dan marketing, lalu 1 tahun terakhir difokuskan ke advertising dan juga marketing communications. Pendidikan saya selama 4 tahun pertama sih bisa dibilang hasil kecebur ya.. saya tidak seberuntung anak – anak lain yang langsung di terima di jurusan pilihan pertama. Saya memang pilih jurusan Administrasi Niaga waktu ikut SPMB tahun 2004 yang lalu  (10 tahun yang lalu!), tetapi sebenarnya itu pilihan kedua. Pilihan pertama saya adalah komunikasi – nggak diterima. Tetapi saya merasa beruntung karena saya sudah mantap dan yakin atas pilihan karir saya sejak di bangku kuliah. Saya mau kerja di industri fast moving consumer goods (FMCG). Saya mau membangun merek. Yap, kerja di FMCG. Tidak seperti kebanyakan teman saya yang ingin kerja di bank, perusahaan minyak, atau BUMN – saya sudah yakin mau bekerja di industri FMCG sejak kuliah S1.

Karena saya memang seorang super mega planner (hahaha), saya juga sudah merencanakan dengan (sekiranya) matang strategi saya supaya bisa membangun karir di industri FMCG. Saya paham ada berbagai aspek dari marketing yang bisa saya tekuni, dan saya kemudian memutuskan untuk fokus di marketing and communications, maka dari itu saya pilih S2 di bidang tersebut. Nah.. di Indonesia, ada beberapa (banyak) perusahaan FMCG yang cukup terkenal dan produknya banyak dipakai orang – orang sehari – hari. Mulai dari perusahaan lokal sampai global. Singkat cerita setelah pulang S2 saya berhasil diterima di salah satu perusahaan FMCG global dan kini sudah hampir 4 tahun membangun karir disitu. TETAPI… tidak di bagian marketing and communications! Hahaha lucu ya. Saya pusing – pusing bikin strategi.. eh sekarang malah kerjanya di bagian marketing research.

Tapi ngga apa – apa, yang penting saya masih enjoy dan yang penting halal kalau kata orang tua, hehehe. Nanti kapan – kapan saya ceritain deh soal kerjaan saya yang rada kurang sesuai jurusan. Kalau sekarang ini saya sebenearnya mau cerita soal perjalanan saya mencari pekerjaan sebelum akhirnya kerja di perusahaan yang sekarang.

Balik lagi soal perusahaan FMCG di Indonesia – ada sebuah perusahaan global yang seakan akan menjadi bintang di kalangan mahasiswa marketing di kampus S1 saya waktu itu. Kita sebut saja X. Katanya perusahaan ini sering mengirimkan karyawan nya keluar negeri, benefit nya bagus, dan juga namanya terkenal. Ya iya, perusahaan ini salah satu top advertising spenders kok – orang awam juga pasti sadar dengan berbagai campaign yang mereka lakukan – selalu besar – besaran dan nggak pernah tanggung. Waktu saya masih kuliah S1, saya kepingin banget kerja di perusahaan ini. Dimulai dari magang. Saya jauh – jauh kirim CV dengan harapan besar bisa magang disana. 2 bulan berlalu tanpa panggilan dan akhirnya saya memutuskan  untuk magang di sebuah konsultan PR. Tiba – tiba, baru seminggu mulai magang disana, saya ditelpon oleh orang HRD perusahaan X ini dan ditawari magang disana! Too late. Belum jodoh, saya sudah berkomitmen di perusahaan lain.

Lalu, saya juga ingat, di tahun terakhir saya kuliah mereka bikin campus recruitment untuk sebuah program management trainee di kampus saya. Guess what – walaupun IPK saya cuma 3,1 tapi saya berhasil menjadi satu – satunya orang yang dipanggil mengikuti seleksi dari kelas saya. Tapi saya nggak lolos ke programnya. Lagi – lagi belum jodoh. Hahaha.

Saya kemudian memutuskan untuk melanjutkan hidup dan berangkat S2. Ketika saya sedang menyelesaikan S2, beberapa teman saya ada yang sudah memulai karir nya dan bekerja di perusahaan X ini. Kemudian, ketika saya sudah selesai S2, salah satu dari mereka menawarkan pekerjaan di perusahaan X ini! Wah, saya merasa seperti pucuk dicinta ulam tiba hahaha. Saya pikir saya kini punya bekal yang cukup, jadi cukup pede ketika datang wawancara. Ketika wawancara, sepertinya semua berjalan lancar dan saya semakin menaruh harapan besar untuk bisa diterima kali ini (tentunya saya juga mengikuti proses rekrutmen di berbagai perusahaan FMCG lainnya ya). Saya sampai menolak 2 tawaran pekerjaan demi menunggu keputusan dari perusahaan X ini. Sampai akhirnya ketika saya dapat kabar di perusahaan tempat saya kerja sekarang dan perusahaan X belum juga kasih kabar.. saya memutuskan untuk meninggalkan mimpi kerja di perusahaan X dan memulai karir di perusahaan saya sekarang ini. Masih juga belum jodoh ya sepertinya.

Kini saya sudah hampir 4 tahun bekerja di perusahaan saya sekarang ini. Bosan? ngga juga. Mau pindah kerjaan? Boleh aja, kalau ada tawaran yang lebih baik. Saya sih memang tidak pernah serius mencari pekerjaan lain selama saya bekerja di perusahaan ini. Saya masih cukup menikmati pekerjaan saya disini. Sampai tiba – tiba sahabat saya yang kebetulan bekerja di perusahaan X ini bulan lalu bilang bahwa divisi nya sedang mencari orang. Levelnya sama seperti saya. Tetapi haloo.. ini di perusahaan X! saya musti mencoba dong ya, atas dasar penasaran. hehehehe. Saya kirim CV. Saya tunggu, sambil tetap bekerja dengan giat. 2 minggu kemudian, di suatu hari jumat, ada missed call di hp saya ketika saya sedang di kantor, sehabis rapat. Nomor tak dikenal. Kemudian saya cek Gmail saya – ada email dari orang HRD perusahaan X! HORE! Emailnya singkat –  bertanya kapan waktu yang pas untuk menghubungi saya. Saya langsung balas – menjelaskan saya habis rapat jadi tidak angkat telpon yang tadi, dan bilang bahwa saya bisa dihubungi setengah jam kemudian. Orang HRD nya langsung balas lagi  -bilang OK dan bilang bakal telpon saya di jam yang sudah saya sebutkan. Hanya saja dia tidak pernah menelpon balik. Sampai sekarang.

Hahaha.. ini sebenarnya ada apa sih antara saya dan perusahaan X? nggak jodoh? kok selalu mepet – mepet gitu ya “ceritanya”. Ya sudah deh, saya sih tenang – tenang saja. Rejeki sudah ada yang atur dan jodoh ngga kemana kan katanya yaa.. hehehe. Sebagai penutup, ini ada gambar menarik soal industri FMCG dan merek – merek yang kemungkinan besar kamu gunakan sehari – harinya. Perusahaan saya (dan juga perusahaan X) termasuk di gambar ini lho! 😉

FMCG giants. Image from Google.com
FMCG giants.
Image from Google.com

 

Kawinan di Indonesia

Post ini ditulis saat saya lagi nunggu boarding di bandara Sultan Hassanudin Makassar, ceritanya mau pulang ke Jakarta setelah business trip selama 1 hari (bentar banget ya!).

Dilihat dari judulnya, saya bukan akan nulis soal Makassar atau kerjaan saya disini, tapi soal kawinan!

Berawal dari iseng-iseng liat foto waktu malam minggu kemarin datang ke resepsi pernikahan (singkatnya kita sebut kawinan) teman di handphone, saya jadi kepikiran diskusi saya sama pacar.

Waktu itu saya lagi telponan sama pacar pas dijalan menuju ke sebuah kawinan. Dia bilang, “wah asik dong kamu bakal makan makan enak!” Saya bilang, “yah belum tentu sih.. Kalau masih ada.” Masalahnya saya kalau datang kawinan hobinya mepet, undangan jam 7-9 malam saya biasanya datang jam 8an.. Jadi salah saya sendiri sih kalau ngga kebagian makanan hehehe. Kalaupun datang cepat dan makanan masih melimpah, saya memang jarang bernafsu makan di kawinan, karena biasanya lebih sibuk haha-hihi atau foto-foto.

Ketika saya bilang gitu, pacar saya yang sudah lebih dari 10 tahun meninggalkan Indonesia itu jadi bingung kalau saya cerita ngga makan di kawinan, apalagi kalau saya ke kawinan numpang salaman sama pengantin nya doang lalu lanjut ke kawinan lainnya karena dapet 2 undangan sekaligus dalam sehari (rekor saya 4 kawinan dalam sehari! Hahaha).

Maklum, kalau di luar negeri tuh kawinan biasanya berupa sitting dinner ya, kayak di film-film gitu kan? Pokoknya pacar saya itu selalu cerita betapa melimpah dan enaknya masakan di kawinan. Hehehe.

Nah, kebetulan banget nih di kawinan yang malam minggu kemarin itu saya makan banyak! Hahaha, padahal lagi-lagi undangan jam 7 saya datangnya jam 8 lewat hampir setengah 9, tapi surprisingly makanan masih banyak, bahkan saya bisa makan main course sampai 2x hahahaha.

Saya jadi seru sendiri keasikan makan dan minta teman fotoin saya dengan makanan-makanannya untuk dikirim ke pacar 🙂 ini dia hasilnya…

20140609-164614-60374217.jpg

Kalo kamu yang di Indonesia, datang ke kawinan biasanya makan banyak atau ngga?