The US Trip: Transit in Hong Kong

This is the second post of “The US  Trip” series. To read other posts in this series, click here.

As a took Cathay Pacific airline, I had to transit in Hong Kong on my way to Los Angeles from Jakarta. I took the morning flight from Jakarta and it took me around 4,5 hours to get to Hong Kong. My flight from Jakarta to Hong Kong was rather delightful, I slept almost all the time (only woke up when it’s time for a meal :p), and I liked the meal served to me.

As soon as I got off the plane , I immediately searched for transit guide. I could find it easily, but I had to go through some immigration and security check before I was able to enter the departures terminal. I remember queuing for quite a while for these checks, which made me began to feel tired. Walking slowly, I had no expectation when I entered the terminal. Guess what “greeted” me in front of the elevator? This.

20140225-210352.jpg
Zara outlet

Wooohooo the airport has Zara outlet! That moment my expectation went up drastically. I began to love the airport already.. and forgot my tiredness, hahaha. My love increased when I found out that it has free wi-fi (with super speed!) everywhere! Near my departure gate, I also found a MAC outlet, two bookshops, some retail shops, and a lot of chairs. That way my transit period was almost like a leisure! I had no problem in killing time at all. Even though I did not shop, but at least I got to enjoy window shopping while killing time.

20140227-000142.jpg
Departures terminal

Now, feeling hungry after all those window shopping? no worries at all! the airport has a selection of fast food joints (I think there are some restaurants too.. but I didn’t see it) which can keep you full in between your flihgts. My favorite – the one which also confirmed my super duper love for this airport – is Popeyes! This fast food joint, located in Departures area level 7, used to have some branches in Jakarta, but closed a couple years ago. I loved their biscuits soooo much and I couldn’t help but buy a pack for my snack while waiting for my next flight 😛 Let’s just say my 15 hours flight from Hong Kong to Los Angeles went realllly smooth , partly because of my happy tummy after eating those biscuits 😀

20140225-210341.jpg
Popeyes’ biscuits !!!

So.. that’s all for my transit in Hong Kong experience. I’ll start writing my US experience soon 🙂

Advertisements

The US Trip: Pre – Departure

Note : This is the first post of “The US Trip” series – stories from my solo trip to US last year. Some posts (like this one), will be in Bahasa Indonesia, and some in English. Hopefully you’ll find both versions useful and enjoyable! -c

Tulisan tentang perjalanan saya ke Amerika Serikat ini harusnya sudah saya post sejak tahun lalu – segera setelah saya pulang ke Indonesia, di blog saya yang lama. Tetapiiii, banyak hal yang membuat tulisan ini terlambat, bahkan tulisan ini sudah “nangkring” di blog ini sejak bulan Januari! Yah, seperti pepatah yang terkenal “better late than never“, mari kita mulai cerita perjalanan saya ke Amerika Serikat.. dimulai dari “kehebohan” sebelum saya berangkat ya! 🙂

Visa 
Sebagai warga negara Indonesia, saya butuh visa untuk memasuki Amerika Serikat (AS). Walaupun saya sudah pernah pergi ke AS dua kali sebelumnya, waktu itu saya masih kecil – masih ikut orang tua. Kemarin adalah pengalaman pertama saya mengajukan permohonan visa dan juga berangkat sendirian, jadi saya rada deg – degan.

Saya deg – degan karena pasca kejadian 9/11, saya banyak mendengar cerita – cerita betapa susahnya mendapatkan visa turis AS – cerita penolakan yang absurd, juga cerita keribetan untuk apply visa turis tersebut. Jadi, saya berusaha mencari sebanyak – banyaknya informasi di internet, dengan harapan mematahkan gosip – gosip yang saya dengar. Yang pertama saya lakukan adalah browsing website nya Kedubes AS di Jakarta. Karena perjalanan saya ini murni perjalanan jalan – jalan, jenis visa yang saya butuhkan adalah visa turis – yang jika menurut website ini disebut dengan Visa Bisnis / Wisatawan (B1/B2). Disitu juga ditulis syarat – syarat yang diperlukan (tips: siapkan waktu untuk mengisi formulir DS-160 dengan menyeluruh!), dan setelah menyiapkan semua syarat nya, saya pun membuat perjanjian untuk wawancara di kantor kedubes AS di Jakarta.

Pada hari wawancara, saya juga membawa supporting documents yang sekiranya menurut saya bisa memperkuat aplikasi visa turis saya. Yang saya bawa adalah slip gaji dari kantor, buku tabungan, bukti pemesanan tiket pulang pergi (kebetulan saya sudah punya tiket Jakarta – Los Angeles PP sebelum bikin visa), dan juga paspor – paspor lama saya yang ada visa AS nya waktu saya berangkat kesana dengan  orang tua. Last time I checked, tidak ada halaman di website resmi pemerintah AS yang menyebutkan dengan spesifik jenis supporting documents yang harus dibawa – yang penting tiap aplikan visa turis  punya bukti yang konkrit bahwa perjalanan nya memang hanya sementara, murni jalan – jalan, dan bukan untuk berimigrasi ke AS!

Singkat cerita, wawancara saya di kedubes AS berjalan lancar. Saya sengaja memilih jam wawancara paling pagi. Jam 7 kurang saya sudah sampai, kemudian sekitar jam 9 saya sudah bisa pulang. Wawancara nya juga berjalan lancar – jauh sekali dari gosip – gosip yang saya dengar. Aplikasi visa turis saya pun disetujui hari itu juga! Wooohooo! Kabar baiknya, saya dapat visa multiple entry! jadii saya masih punya kesempatan untuk jalan – jalan mengelilingi AS di kemudian harinya. Ternyata, mengajukan aplikasi visa turis ke AS tidak seram, dan tidak juga seribet gosip – gosip yang saya dengar. Hore! 🙂

Tiket Pesawat Pulang – Pergi

Nah, soal tiket pesawat ini rada unik. Kenapa unik? karena saya sudah beli tiket pesawat PP sebelum saya bikin visa! Nekat? mungkin. Tetapi begini ceritanya. Saya memang sudah nabung untuk jalan – jalan ke AS sejak saya mulai bekerja di kantor yang sekarang. Kurang lebih nabung nya 2 tahun! Ngecek website tiket murah hampir – hampir jadi langganan setiap lagi merasa jenuh dengan aktifitas (atau setiap ada godaan untuk mecahin tabungan! :p), tetapi selama sekitar 2 tahun itu, tiket nya belum kebeli juga. Well, selain emang belum cukup uang nya, saya juga belum menemukan waktu cuti panjang yang tepat.

Sekitar bulan Juni 2013, saya merasa tabungan sudah cukup, dan hasrat pergi ke AS juga sudah semakin besar. Karena saya memang seorang planner, saya sudah merencanakan untuk apply visa turis AS, lalu jika sudah dapat, beli tiket pesawat dan kemudian benar – benar merencanakan perjalanan saya. Tetapi, di hari itu saya sedang iseng – iseng browsing dan menemukan promosi tiket dari Cathay Pacific yang harganya jauh lebih murah dari maskapai penerbangan lain. 

Tanpa pikir panjang, saya langsung memutuskan untuk membeli tiket tersebut – karena selama saya ngecek tiket 2 tahun kebelakang, saya belum pernah menemukan tiket Cathay semurah itu.  Kalaupun pernah menemukan tiket dengan harga segitu, maskapai penerbangan nya tidak se-bonafid Cathay Pacific dan mengharuskan saya untuk transit berjam – jam.

Tips dari saya untuk pencari tiket murah, sering – sering ngecek website maskapai penerbangan yang kamu inginkan, jangan hanya terpaku pada website penerbangan murah, karena kadang – kadang promo yang menarik justru bisa kamu temukan di website maskapai penerbangan tersebut!

Mata Uang

Saya rada apes, pas banget sebelum jadwal perjalanan saya ke AS, nilai tukar rupiah melemah dan menembus Rp.10.000 untuk USD 1! Dengan demikian, budget liburan saya terpotong sekitar 20% karena selama ini saya menabung menggunakan rupiah. Ada baiknya, kedepannya, kamu mempersiapkan tabungan dalam bentuk USD sehingga tidak harus terkena imbas nilai tukar seperti saya 🙂

Oke, sekian cerita persiapan saya sebelum berangkat ke AS. Cerita – cerita selanjutnya dalam seri “The US Trip” menyusul yaa! 🙂