Sudden Sadness

In the midst of all things that have been happening lately, last Friday I went through a tough time with no particular reason. Well to be honest now I think the culprit was receiving an email from a future employer saying that they had to cancel my upcoming interview due to the situation, and that they’re unsure when they will be able to reschedule it. When I first got the email I didn’t feel anything, it was something that I actually have thought about because of the current situation with coronavirus and all that.

Then I went on to live my day, until a couple of hours later I suddenly felt this surge of sadness and cried uncontrollably. I literally sobbed until I was almost out of breath and felt very confused at the same time, because I didn’t know why I felt the surge of sadness.

Poor husband woke up from his sleep after a long shift at work only to find me sobbing uncontrollably. He tried to console me but I was too distressed and could not find the words to explain my feelings.

He then had to leave again for work so I was home alone and thankfully managed to calm myself down. I remembered that I had downloaded an app called Sayana – I’ve used the app several times before to help me understand my feelings and calm me down when times got rough.

So I opened the app and reported my feelings… and I got this very nice tips that I now keep in mind in case such thing happened again. As you probably know I’m almost running out of capacity on my wordpress account so I apologize that I can’t post pictures, instead I’m just going to write the tips here, hope that it will benefit you as much as it has benefited me.

The Thought Express by Sayana

I want to share an interesting metaphor about how we can observe our thoughts to avoid getting into negative emotional states.

Imagine yourself standing on the platform in a train station. The PA system tells you that there will be an express train coming by, so you need to stand back from the tracks.

Now imagine that train coming – you can probably feel it as well as hear it coming. The noise increases as it thunders through, buffeting you with a blast of wind.

Despite the intensity of the experience, we usually just let those express trains pass on by without a second thought. But when it comes to thoughts, we don’t let them go by. We get worked up and hop onto “thought express” without understanding where it takes us.

The express train metaphor shows how negative emotions and automatic thoughts work. They come on pretty quickly, and sometimes intensely, but if we don’t engage with them, they pass on by.

If we feel anger, hatred, jealousy, or any other strong emotion, we tend to dwell on it and that can have a long lasting, negative effect on our overall emotional state.

So, instead of jumping on that thought train, we can stand on the platform, notice the thoughts and feelings that come to us, let them pass until the right train arrives that will take us to where we want to go.

What do you guys think? I personally really like it and will try to practice it next time I feel a strong negative emotion. Do you have any other tips that you like to do when experiencing such thing? Do share and let’s support each other during these weird and difficult times.

As always I wish you are all healthy, safe and happy. Take good care of yourselves! 🙂

Life in The Time of Coronavirus

Judulnya Bahasa Inggris tapi isinya Bahasa Indonesia, hehe. Apa kabar teman2? Pengen cerita soal kehidupan kami di Amerika akhir2 ini sejak COVID-19 sudah disebut sebagai pandemi.

Sebenarnya kan berita soal COVID-19 sudah ramai terdengar sejak akhir tahun lalu sejak pertama kali kejadian di Cina. Waktu itu kehidupan disini masih normal,bahkan sampai minggu lalu menurut saya kehidupan juga masih normal.

Mulai berasa hari Selasa minggu lalu ketika saya masuk kelas di kampus dan dosen bilang kalau baru aja ada pengumuman resmi bahwa UCLA menghentikan semua kegiatan pembelajaran di kelas, mengubahnya menjadi online sampai awal April. Hari Rabu nya saya masih ke kampus, ketemu beberapa teman untuk mengerjakan tugas kelompok. Hari Sabtu saya masih ke acara ulang tahun teman bersama 4 orang lainnya, hari Minggu masih ngopi bareng 4 orang teman.

Minggu sore dapat berita kalau mulai Senin kota LA mulai memberlakukan “lockdown”, yang artinya bisnis tutup kecuali yang berhubungan sama kesehatan, bahan pangan (supermarket) dan pemerintahan. Restoran cuma boleh terima order takeout atau delivery.

Minggu malam saya dan R belanja ke supermarket, hampir nggak kebagian apa2. Bukan niat nyetok barang sih, tapi emang kebetulan biasanya jadwal belanja mingguan kami hari Senin, nah karena katanya Senin mau lockdown ya kami belanja hari Minggu. Eh.. baru pernah liat langsung betapa kosongnya toko Target tempat biasa kami belanja, terutama di rak makanan kering, rak peralatan bersih2, dan minuman. Ngeri juga sih liatnya.

Senin-Selasa-Rabu kami kebanyakan di rumah, hanya keluar untuk hal yang benar2 perlu, itu juga keluar-masuk cepet2. R kebetulan libur hari Senin dan Selasa tapi hari Rabu kemarin dia sudah kembali bekerja, walaupun ada larangan kerja dari pemerintah setempat Orange County. Maklum, R kerjanya di bidang medis jadi tempat kerjanya memang lagi sangat padat dan butuh orang banyak, malah diminta lembur kalau bisa dan mau.

Kalau ditanya gimana situasi pasca lockdown di LA? jawabannya bervariasi. Peraturan pemerintah pun cukup bervariasi dari tiap2 daerah. Misalnya State of California punya peraturan sendiri. Orange County (tempat saya tinggal) dan LA County pun peraturan nya beda. Dalam County ada beberapa kota, dan LA County pun bukan hanya LA city. Jadi waktu hari Senin peraturan di LA city mulai berlaku, saya di rumah di Orange County belum merasakan efek dari restoran tutup, karena peraturan serupa baru resmi dikeluarkan di Orange County hari sesudahnya.

Mulai kemarin di Orange County ada peraturan baru yang mengharuskan warga untuk membatasi pertemuan kelompok dalam bentuk apapun termasuk kerja. Katanya bakal ada patroli dari aparat yang berwenang untuk memastikan semua mematuhi aturan. Kantornya R ngasih panduan untuk karyawan harus jawab apa kalau kebetulan di stop aparat sewaktu dalam perjalanan ke kantor.

Minggu ini juga saya dapat email dari kampus kalau UCLA memperpanjang periode belajar online nya sampai akhir spring quarter, kira2 di awal Juni. Minggu ini juga saya dapat kabar kalau jadwal interview urusan imigrasi saya tertunda entah sampai kapan, sampai kantor imigrasi beroperasi normal kembali.

Terus terang saya merasa takut dan sedih, pertama dengan adanya pandemi ini dan melihat jumlah orang yang terinfeksi rasanya makin banyak aja tiap harinya. Sedih juga karena beberapa rencana harus ditunda dulu, walau ngga seberapa tapi jujur tetap berasa kecewa. Kemudian saya juga jadi merasa cemas, terutama mikirin Indonesia, namanya juga keluarga saya ada disana. Ragu apakah Indonesia bisa menangani pandemi ini dengan baik? mikirin keselamatan dan kesehatan keluarga dan teman2 di Indonesia. Makin cemas juga rasanya lihat keadaan ekonomi, khawatir banget kalau sampai ada kejadian krisis ekonomi.

Saya berusaha untuk melihat sisi positif dari kejadian ini, tapi terus terang masih susah. Yang bisa saya lakukan adalah terus berdoa semoga kejadian ini cepat berlalu, semoga kehidupan bisa kembali normal, dan semoga yang sakit segera sembuh, yang sehat jangan sampai sakit.

Gimana keadaan di tempatmu tinggal? semoga semua aman dan yang penting sehat selalu ya 🙂 *virtual hugs*

Mulai Cari Kerja

Tahun ini salah satu tujuan hidup saya adalah dapat kerjaan sesuai dengan pengalaman kerja di Indonesia. Kalau ngomong cari kerjaan aja sih banyak banget disini. Intinya banyak cara untuk cari uang secara halal di Amerika, tapi yang saya penasaran banget tuh bisa nggak sih saya melanjutkan karir saya disini sesuai pengalaman kerja di Indonesia?

Jadilah awal tahun ini saya mulai semangat lagi merapihkan resume, apalagi rencana nya bulan Juni nanti sudah mau wisuda. Awal bulan Januari kemarin saya datang ke acara job expo di kampus, sayangnya kurang membawa hasil soalnya acaranya dibuka untuk semua kalangan di kampus, mulai S1 sampai Doktor termasuk orang2 program sertifikat kayak saya… dan ternyata nggak banyak lowongan kerja yang sesuai bidang.

Oh iya kalau ada yang penasaran, bidang saya apa sih? Jawabnya: Marketing. Ya tapi kan luas, bagian apanya? Nah itu dia problem saya yang sebenernya bisa juga jadi keuntungan… pengalaman kerja saya agak kurang spesifik di dunia pemasaran. Saya pernah pegang posisi di marketing research, pernah di strategic marketing, pernah juga trade marketing, commercial marketing, digital marketing, sampai account management juga pernah. Asli gak fokus ya. Jadi bingung pas mau cari kerjaan disini.

Akhirnya saya memutuskan untuk sewa jasa career coach disini, dengan harapan ybs bisa bantu saya untuk mengidentifikasi area2 dimana saya punya kelebihan, kelemahan dan gimana cara mengatasinya.

Sejujurnya saya baru familiar sama konsep career coach ini sekarang sih. Dulu di Jakarta nggak pernah denger, atau mungkin udah ada tapi saya aja yang nggak tahu. Akhirnya saya bikin janji sama salah satu coach yang masih cukup junior (kalau senior bayarnya mahaaal… haha), tapi dilihat dari review nya bagus dan juga saya dapat rekomendasi dari teman disini.

Pas ketemu, orangnya baik banget dan tampak suportif, orangnya juga keliatan penuh empati dan pendengar yang baik. Jadi saya nyaman banget ceritain pengalaman kerja dan juga hal – hal yang saya alami dalam proses mencari kerja ini.

Hal pertama yang kita bahas adalah soal resume. Ternyata resume saya perlu banyak dirombak, karena formatnya nggak sesuai dengan kebutuhan pasar di Amerika. Ternyata juga saya banyak tendensi ngulang2 sesuatu. Fiuh, untung saya belum sebar resume, jadi masih bisa saya benerin.

Jadi, next step dari proses cari kerja saya adalah benerin resume. Setelah itu, saya ada janji ketemu dia lagi untuk sesi job search strategy, semoga dia bisa bantuin saya untuk cari kerja sesuai minat dan bakat.

Mumpung topiknya sesuai, saya mau bagi2 tips dari career coach saya ah… semoga bemanfaat ya 🙂

Tips untuk membuat resume yang ok 🙂

  1. Sesuaikan format dengan industri atau negara yang kamu tuju
  2. Untuk yang di Amerika, pahami konsep ATS dan pastikan resume kamu “ramah” ATS.
  3. Gunakan “action verbs” di bagian deskripsi pekerjaan. Misalnya, daripada nulis “responsible for”, lebih baik gunakan kata kerja seperti “managed, led, implemented, organized, oversaw” dan sebagainya…
  4. Siapkan 1 master resume yang isinya semua pengalaman kamu, jadi nanti kalau mau melamar pekerjaan ke perusahaan X Y Z tinggal copy dari master resume tersebut dan disesuaikan isinya sesuai kebutuhan. 1 untuk X, 1 untuk Y, 1 untuk Z.
  5. Coba sebanyak mungkin untuk membuat resume kamu jadi kuantitatif. Misalnya daripada nulis “managed project A” doang, bisa ditambah “managed project A in X cities, for 5 clients” dan sebagainya.

Ada tips lain nggak teman2? boleh lho ikutan share di komen.. anyway, doakan saya tahun ini bisa dapat kerja sesuai minat dan bakat ya teman2 🙂 buat kamu yang sesama pencari kerja, semangat! ❤

Kebiasaan Akhir Tahun di Amerika

Setelah semakin lama tinggal di Amerika, saya semakin sadar akan beberapa kebiasaan orang – orang di Amerika terutama menjelang periode pergantian tahun. Post ini bakalan random sih, tapi saya coba ceritain beberapa kebiasaan di Amerika yang saya baru sadari yaah (Kayaknya dulu udah pernah nulis tentang topik serupa tapi males carinya haha).

  • Kirim Kartu

Disini kirim kartu masih dijalanin banget, mulai dari ulang tahun, hari besar, bahkan sampai sekedar untuk say Hi kepada orang – orang terdekat juga bisa pakai kartu. Di Indonesia kayaknya terakhir saya kirim kartu waktu lebaran jaman masih kecil, nemenin orang tua beli di Gramedia hahaha.. tapi disini kartu tuh masih kepake banget dan bahkan jadi suatu hal yang normal. Kalau sama keluarga suami, urusan kirim kartu ini jadi sesuatu yang lebih spesial lagi terutama kalau ulang tahun, keluarganya kebiasaan nulis hal – hal yang baik dan “dalem” di kartu untuk yang ulang tahun, awalnya sempat bingung karena nggak kebiasa mengekspresikan perasaan lewat kartu, tapi sekarang udah mulai terbiasa. Yang lucu saya kirim kartu natal ke mama di Indonesia dengan model Amerika dong, nulis panjang lebar.. begitu sampe mama bingung hahaha.. seneng sih tapi dia bilang tumben2an, karena keluarga kami biasanya nggak model tulis-tulisan perasaan gitu 😀

  • Catet Alamat

Karena kirim kartu butuh alamat, jadi saya perhatikan orang – orang disini juga suka tanya alamat dan di catat baik2. Kalau pindah rumah, suka kirim pemberitahuan pindah rumah. Di Indonesia saya kayaknya banyak gak tau rumah temen dimana, kalaupun tau tempatnya, gak pernah catat alamat lengkapnya kecuali jaman udah mulai ada Gojek kalau ada perlu kirim sesuatu… Nah, gara2 kebiasaan ini saya baru aja beli buku alamat dan sekarang mulai catetin alamat teman2 dan keluarga. Seneng deh rasanya, padahal sebenarnya bisa dicatat secara digital tapi seneng aja bisa catat di buku.

  • Dekorasi Akhir Tahun

Bagian yang ini kayaknya sudah pernah saya ceritain sih, tapi akhir tahun kemarin baru ngeh kalau dekorasi akhir tahun tuh sesuatu yang dianggap serius banget disini. Dekorasi nya nggak cuma bertemakan natal, kadang hanya lampu – lampu meriah tanpa ornamen spesial. Tapi tetap kata kunci nya meriah! Sampai tahun kemarin saya belum ikutan dekorasi sih tapi rasanya akhir tahun ini saya mau mulai ikutan dekorasi biar lebih seru aja suasana akhir tahunnya.. berhubung saya belum upgrade kapasitas wordpress jadi nggak bisa pasang foto, kalau mau lihat suasana dekorasinya bisa lihat video ini yaa

  • Tukar Kado

Tukar kado ini juga jadi salah satu kegiatan akhir tahun yang rasanya dianggap penting di Amerika. Dulu di Indonesia saya sudah biasa sih sama acara tukar kado di keluarga mama yang merayakan Natal, juga di kantor dengan teman2 satu tim. Tapi disini rasanya lebih spesial karena tradisi tukar kado nggak cuma dijalankan antara sesama anggota keluarga, tapi juga dengan teman – teman dan juga rekan kerja di kantor. Dan yang juga bikin spesial adalah soal pemilihan kadonya. Kalau di Indonesia rasanya pilih kadonya lumayan “asal”, yang penting bagus dan masuk budget, kalau disini rasanya orang – orang lebih memperhatikan keinginan dan selera orang yang mau dikasih kado. Terus terang saya sempat agak pusing akhir tahun kemarin ketika harus mikirin kasih kado apa untuk keluarga dan teman – teman terdekat disini, karena saya pikirin satu persatu kesukaan orang tersebut dan juga tentunya harus disesuaikan juga sama budget rumah tangga hahaha. Sekedar tips yang saya pelajari tahun ini adalah rencanakan dari jauh hari, catat satu persatu orang yang mau dikasih kado dan kira – kira seleranya gimana. Kemudian, beli kadonya ketika periode diskon Thanksgiving atau Black Friday. Dengan begitu urusan kado bisa selesai dari jauh hari dan bisa beli barang bagus dengan harga hemat! 😀

Kebiasaan – kebiasaan tersebut saya lihat di daerah tempat tinggal saya di Los Angeles, mungkin beda kalau kamu tinggal di kota lain dan pastinya beda kalau kamu di negara lain. Kebiasaan akhir tahun apa sih yang kamu perhatikan di negara/kota tempat kamu tinggal? Ditunggu ya ceritanya 🙂

January So Far

I said I was going to blog more often this year but it’s already the 18th and there’s only 1 blog post published this month. Hehe. It’s okay….

Anyway, this month I started my 3rd quarter in school which means I only have 1 left! Wooow! A couple days back I received an email from the school informing me about this year’s graduation date… which will be held in June. I still find it funny to attend graduation for a certificate program but God willing I will attend it just for the sake of celebrating another life’s milestones 🙂 more about that later…

Since I’m almost done with school, I also have started to look for jobs that would be suitable for me after graduation. Well this part is really confusing, because I have to re-do my resume to tailor it to the US job market, highlighting the focus areas and eliminating the unnecessary details. I also have to look more carefully at job postings because some companies tend to use different names for the same job roles. Like this one time I found out that Key Happiness Manager is basically the same as Key Account Manager = basically keeping your customers and the company happy! hahahaha. But at the same time I’m also very excited to start this job hunting process because I feel like it’s time time to reinvent my career, hopefully towards a better direction.

There’s some other projects that I hope to progress this month and the coming months but I’m taking it one step at a time…

Oh, this month I also started to exercise more regularly. I joined a local gym and started to exercise 3x a week now woohoooww. I am enjoying it so far and I hope that the excitement won’t fade easily. I think I found the right gym and the right exercise that I really enjoy.

Well, that’s about it. a quick update from the California coast this January. I’ll be back with more stories and I hope that you are all having a great start of the year ❤

Tahun Baru

Di awal tahun baru ini saya sempat mengalami serangan kecemasan ringan yang untungnya bisa saya hadapi dengan baik. Kata terapis saya kalau ada apa2 (maksudnya kalau lagi merasa overwhelmed sama pikiran2 dan jadi panik), hal pertama yang harus dilakukan adalah menerima keadaan tersebut dibandingkan dengan berusaha menghilangkannya saat itu juga (yang bisa berujung pada denial). Bener sih, dengan menerima, saya jadi bisa lebih mengerti diri sendiri dan juga mendapatkan sebab2 dari kepanikan atau kecemasan yang saya rasakan dan bisa move on dengan kondisi yang lebih baik.

Jadi, sebabnya adalah saya stress lihat kejadian kurang menguntungkan yang terjadi di dunia pada awal tahun kemarin, terutama banjir di Jakarta yang dirasakan imbasnya oleh beberapa rumah tante dan om saya juga teman baik saya. Tahu sendiri kan waktu di Amerika bagian sini lebih lambat daripada di Indonesia, jadi di saat saya lagi menunggu detik2 countdown di downtown LA, grup whatsapp keluarga lagi saling menanyakan kabar soal banjir dan sepupu saya kirim foto rumah keluarga yang kerendam air kira2 setinggi meja makan 😦 Hancurlah hatikuuu…

Terus kebetulan juga tahun ini saya punya banyak rencana pribadi yang ingin saya capai, yang sudah saya pikirkan dari akhir tahun lalu. Pengen ini, pengen itu, harus ini, harus itu.

Alhasil kena lah serangan panik. Kepala saya rasanya penuh, mikirin saya musti ngapain? liat kondisi dunia yang kacau terutama soal global warming, saya bisa apa? apa iya pakai sedotan kaca buat minum boba dan bawa kantong belanja kemana – mana cukup untuk mencegah dampak global warming? Belum lagi soal perkembangan diri sendiri. Saya mikirin gimana saya harus mulai hidup lebih sehat, nah terus lebih sehat itu indikator nya apa? Turun berat badan? mau memperbaiki kondisi sehat fisik apa mental? atau keduanya? Jadi harus olahraga dan melatih mindfulness? caranya gimana? nulis jurnal harian? bangun tidur minum air lemon hangat? Yaampun pusing kan… panik deh akhirnya.

Untung paniknya nggak berlangsung lama. Kejadiannya waktu itu pagi – pagi sehabis bangun tidur, jadi saya tenangkan diri dulu beberapa saat, sambil berusaha tidur kembali (untungnya masih libur). Ketika bangun kedua kalinya, pikiran sudah tenang dan badan lebih enteng rasanya. Fiuh.

Sejak saat itu, saya masih berusaha sih supaya nggak terlalu menaruh beban pada diri sendiri. Jalani hari demi hari sebaik mungkin aja, baik itu untuk lingkungan dan juga diri sendiri. Yang pasti saya coba lakukan tiap hari sih berusaha lebih aktif di tahun 2020 ini, demi tujuan hidup lebih sehat jiwa raga.

Semoga kita semua selalu sehat dan semangat ya! Salam semangat! 😀