(Sepertinya) Nggak Jodoh?

Jadi begini. Saya kan menghabiskan 5 tahun belajar marketing and communications. 4 tahun pertama dihabiskan untuk belajar seputaran bisnis dan marketing, lalu 1 tahun terakhir difokuskan ke advertising dan juga marketing communications. Pendidikan saya selama 4 tahun pertama sih bisa dibilang hasil kecebur ya.. saya tidak seberuntung anak – anak lain yang langsung di terima di jurusan pilihan pertama. Saya memang pilih jurusan Administrasi Niaga waktu ikut SPMB tahun 2004 yang lalu  (10 tahun yang lalu!), tetapi sebenarnya itu pilihan kedua. Pilihan pertama saya adalah komunikasi – nggak diterima. Tetapi saya merasa beruntung karena saya sudah mantap dan yakin atas pilihan karir saya sejak di bangku kuliah. Saya mau kerja di industri fast moving consumer goods (FMCG). Saya mau membangun merek. Yap, kerja di FMCG. Tidak seperti kebanyakan teman saya yang ingin kerja di bank, perusahaan minyak, atau BUMN – saya sudah yakin mau bekerja di industri FMCG sejak kuliah S1.

Karena saya memang seorang super mega planner (hahaha), saya juga sudah merencanakan dengan (sekiranya) matang strategi saya supaya bisa membangun karir di industri FMCG. Saya paham ada berbagai aspek dari marketing yang bisa saya tekuni, dan saya kemudian memutuskan untuk fokus di marketing and communications, maka dari itu saya pilih S2 di bidang tersebut. Nah.. di Indonesia, ada beberapa (banyak) perusahaan FMCG yang cukup terkenal dan produknya banyak dipakai orang – orang sehari – hari. Mulai dari perusahaan lokal sampai global. Singkat cerita setelah pulang S2 saya berhasil diterima di salah satu perusahaan FMCG global dan kini sudah hampir 4 tahun membangun karir disitu. TETAPI… tidak di bagian marketing and communications! Hahaha lucu ya. Saya pusing – pusing bikin strategi.. eh sekarang malah kerjanya di bagian marketing research.

Tapi ngga apa – apa, yang penting saya masih enjoy dan yang penting halal kalau kata orang tua, hehehe. Nanti kapan – kapan saya ceritain deh soal kerjaan saya yang rada kurang sesuai jurusan. Kalau sekarang ini saya sebenearnya mau cerita soal perjalanan saya mencari pekerjaan sebelum akhirnya kerja di perusahaan yang sekarang.

Balik lagi soal perusahaan FMCG di Indonesia – ada sebuah perusahaan global yang seakan akan menjadi bintang di kalangan mahasiswa marketing di kampus S1 saya waktu itu. Kita sebut saja X. Katanya perusahaan ini sering mengirimkan karyawan nya keluar negeri, benefit nya bagus, dan juga namanya terkenal. Ya iya, perusahaan ini salah satu top advertising spenders kok – orang awam juga pasti sadar dengan berbagai campaign yang mereka lakukan – selalu besar – besaran dan nggak pernah tanggung. Waktu saya masih kuliah S1, saya kepingin banget kerja di perusahaan ini. Dimulai dari magang. Saya jauh – jauh kirim CV dengan harapan besar bisa magang disana. 2 bulan berlalu tanpa panggilan dan akhirnya saya memutuskan  untuk magang di sebuah konsultan PR. Tiba – tiba, baru seminggu mulai magang disana, saya ditelpon oleh orang HRD perusahaan X ini dan ditawari magang disana! Too late. Belum jodoh, saya sudah berkomitmen di perusahaan lain.

Lalu, saya juga ingat, di tahun terakhir saya kuliah mereka bikin campus recruitment untuk sebuah program management trainee di kampus saya. Guess what – walaupun IPK saya cuma 3,1 tapi saya berhasil menjadi satu – satunya orang yang dipanggil mengikuti seleksi dari kelas saya. Tapi saya nggak lolos ke programnya. Lagi – lagi belum jodoh. Hahaha.

Saya kemudian memutuskan untuk melanjutkan hidup dan berangkat S2. Ketika saya sedang menyelesaikan S2, beberapa teman saya ada yang sudah memulai karir nya dan bekerja di perusahaan X ini. Kemudian, ketika saya sudah selesai S2, salah satu dari mereka menawarkan pekerjaan di perusahaan X ini! Wah, saya merasa seperti pucuk dicinta ulam tiba hahaha. Saya pikir saya kini punya bekal yang cukup, jadi cukup pede ketika datang wawancara. Ketika wawancara, sepertinya semua berjalan lancar dan saya semakin menaruh harapan besar untuk bisa diterima kali ini (tentunya saya juga mengikuti proses rekrutmen di berbagai perusahaan FMCG lainnya ya). Saya sampai menolak 2 tawaran pekerjaan demi menunggu keputusan dari perusahaan X ini. Sampai akhirnya ketika saya dapat kabar di perusahaan tempat saya kerja sekarang dan perusahaan X belum juga kasih kabar.. saya memutuskan untuk meninggalkan mimpi kerja di perusahaan X dan memulai karir di perusahaan saya sekarang ini. Masih juga belum jodoh ya sepertinya.

Kini saya sudah hampir 4 tahun bekerja di perusahaan saya sekarang ini. Bosan? ngga juga. Mau pindah kerjaan? Boleh aja, kalau ada tawaran yang lebih baik. Saya sih memang tidak pernah serius mencari pekerjaan lain selama saya bekerja di perusahaan ini. Saya masih cukup menikmati pekerjaan saya disini. Sampai tiba – tiba sahabat saya yang kebetulan bekerja di perusahaan X ini bulan lalu bilang bahwa divisi nya sedang mencari orang. Levelnya sama seperti saya. Tetapi haloo.. ini di perusahaan X! saya musti mencoba dong ya, atas dasar penasaran. hehehehe. Saya kirim CV. Saya tunggu, sambil tetap bekerja dengan giat. 2 minggu kemudian, di suatu hari jumat, ada missed call di hp saya ketika saya sedang di kantor, sehabis rapat. Nomor tak dikenal. Kemudian saya cek Gmail saya – ada email dari orang HRD perusahaan X! HORE! Emailnya singkat –  bertanya kapan waktu yang pas untuk menghubungi saya. Saya langsung balas – menjelaskan saya habis rapat jadi tidak angkat telpon yang tadi, dan bilang bahwa saya bisa dihubungi setengah jam kemudian. Orang HRD nya langsung balas lagi  -bilang OK dan bilang bakal telpon saya di jam yang sudah saya sebutkan. Hanya saja dia tidak pernah menelpon balik. Sampai sekarang.

Hahaha.. ini sebenarnya ada apa sih antara saya dan perusahaan X? nggak jodoh? kok selalu mepet – mepet gitu ya “ceritanya”. Ya sudah deh, saya sih tenang – tenang saja. Rejeki sudah ada yang atur dan jodoh ngga kemana kan katanya yaa.. hehehe. Sebagai penutup, ini ada gambar menarik soal industri FMCG dan merek – merek yang kemungkinan besar kamu gunakan sehari – harinya. Perusahaan saya (dan juga perusahaan X) termasuk di gambar ini lho! 😉

FMCG giants. Image from Google.com
FMCG giants.
Image from Google.com

 

Advertisements

Dua bahasa

Saya, seperti kebanyakan orang Jakarta yang saya temui lainnya, sudah kehilangan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik.

Saya lupa kapan terakhir kali saya berbicara dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Di keseharian saya, saya hampir selalu berbicara dengan apa yang saya sebut dengan bahasa Jakarta. Bukan, bukan bahasa Betawi, tapi bahasa Jakarta. Bahasa ini saya sebut demikian, yang merupakan campuran bahasa Indonesia, bahasa Betawi, bahasa tidak baku (slang) dan juga bahasa Inggris.. Bahkan terkadang dicampur juga dengan beberapa istilah dari daerah lain (tergantung kepada siapa saya berbicara). Bingung kan? Iya, saya juga. Tetapi siapa sih yang masih menggunakan bahasa Indonesia yang 100% baik dan benar?

Ketika menulis, apalagi. Karena gaya menulis saya cenderung seperti sedang bercerita (apa sih istilahnya, naratif bukan?), dulu hampir selalu tulisan saya di blog mengalir begitu saja dengan bahasa yang campur aduk.. Alias bahasa Jakarta! Ketika saya baca ulang, pusing bukan main!

Ketika saya memutuskan untuk menulis blog dengan lebih serius di akhir tahun lalu, saya berpikir.. Bagusnya menulis dengan bahasa apa ya? Kalau saya tetap menulis dengan bahasa Jakarta, rasanya nyaman, karena itulah bahasa yang saya gunakan sehari-hari.. Tapi rasanya kok tidak adil bagi yang baca, karena pasti bentuknya bakal amburadul. Menulis dengan bahasa Inggris jadi pilihan yang rasanya tepat karena walaupun bukan native speaker dan kemampuan grammar yang masih perlu diasah, saya cukup merasa nyaman menulis dengan bahasa Inggris.

Tetapi.. Pada akhirnya saya kini memutuskan untuk juga menulis dalam bahasa Indonesia, agar saya bisa lebih belajar menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Iya sih masih rada sulit untuk menulis dengan 100% bahasa Indonesia tanpa menggunakan istilah bahasa Inggris atau bahasa tidak baku (slang)… Tapi saya akan terus mencoba 🙂

N.B: kalimat terakhir saya, di otak saya maksudnya “i’ll keep trying though”.. ketika saya terjemahkan jadinya baku sekali yaaa hehehe.. :p

Selamat datang di Jakarta, Uber!

Pernah dengar tentang Uber? kemungkinan besar kamu yang tinggalnya di Amerika atau Inggris pernah ya. Saya sendiri tadinya cuma sering baca artikel atau review tentang Uber di blog – blog, sampai akhirnya minggu lalu saya baca bahwa Uber kini sudah ada di Jakarta!

Apa sih Uber? kalau yang saya baca di website nya, dan juga di artikelartikel yang mengulasnya, Uber itu semacam sistem rideshare atau kalau di terjemahkan, berbagi kendaraan. Sama siapa? Kalau di Amerika yang saya baca, siapa saja bisa jadi pengemudi Uber selama memenuhi syarat yang ditentukan. Untuk menggunakan jasa Uber, gampang sekali – semuanya dilakukan lewat aplikasi smartphone dan sistem pembayaran pun dilakukan lewat kartu kredit. Praktis ya? Beberapa teman saya yang tinggal di LA dan SF pernah cerita betapa serunya ketika mereka request Uber dan tiba – tiba kedatangan supir Uber yang sangat ganteng, atau naik mobil Mercedes Benz! hahahaha.

Jadi, ketika tau Uber sudah ada di Jakarta, saya langsung download aplikasi nya dan daftar. Saat daftar, karena masih dalam masa promo, saya diberikan voucher sebesar 100 ribu rupiah yang bisa digunakan kapan saja. Hari Kamis yang lalu, pulang kantor, saya berencana untuk memakai jasa Uber dari kantor saya di Sudirman menuju Plaza Senayan. Sayangnya saya lupa screenshot tampilan app nya ketika saya request Uber, tapi semuanya benar – benar gampang dilakukan. Intinya, si aplikasi akan melacak lokasi kamu ketika kamu membuka aplikasi nya, lalu ketika kamu memutuskan untuk request Uber, dia akan mengidentifikasi lokasi mobil Uber terdekat, memberi tahu kamu nama supir, foto, jenis mobil dan plat nya, lalu  memberitahukan estimasi waktu kedatangan mobil Uber kamu. Kamu juga bisa menghitung estimasi biaya menuju tempat tujuan yang dihitung dari gabungan base fare, jarak dan waktu tempuh.

Oke kembali lagi ke pengalaman saya dengan Uber ya. Awalnya ketika saya request Uber dari kantor, dibilang bahwa mobil saya akan datang dalam waktu 9 menit. Akan tetapi tidak sampai 5 menit dari waktu saya melakukan request, saya ditelpon oleh supir Ubernya yang bilang bahwa Ia terjebak macet, jadi estimasi kedatangan bisa lebih dari 30 menit dan dengan fair nya menawarkan untuk pembatalan jika saya keberatan menunggu selama itu. Lalu saya batalkan, dan saya pergi ke Plaza Senayan naik ojek. Pada saat saya sedang di Plaza Senayan, ternyata saya harus pindah lagi ke Gandaria City setelahnya, kemudian saya berpikir untuk mencoba request Uber lagi. Setelah dapat supir, ada tulisan “Driver Confirmed and En Route”, yang juga dilengkapi dengan estimasi kedatangan yang di-update secara real time seiring dengan bergeraknya mobil menuju lokasi penjemputan. Kali ini estimasi kedatangan totalnya 15 menit. Supir nya pun menelpon saya tak lama setelah ada tulisan “Driver Confirmed and En Route”, dan bilang bahwa Ia akan tiba kurang lebih 25 menit, lalu setelah saya setuju untuk menunggu, kita janjian bertemu di lobby utama Plaza Senayan. Fair Enough. Lalu saya menunggu.  Selama menunggu, saya bisa memantau secara langsung posisi mobil Uber nya.

Kurang lebih 25 menit kemudian, mobil saya datang. Mobilnya bagus, masih tampak baru – Hyundai Sonata berwarna hitam. Pak Supirnya menyapa saya dengan ramah dan menyetir dengan profesional walaupun sedang macet. Di dalam mobil tersedia air putih botol yang bisa diminum, bebas biaya tambahan! Menurut saya itu adalah little extra  yang menarik. Total biaya perjalanan saya dari Plaza Senayan ke Gandaria City sekitar 30 ribu rupiah, yang saya rasa walau sedikit lebih mahal dari taksi biasa, tapi masih masuk akal. Itupun karena saat ini Uber masih dalam masa promo, jadi saya bisa menggunakan kredit voucher yang saya punya, jadi tidak usah bayar, hahaha. Satu hal yang saya masih kurang paham – kalau di Amerika, siapa saja yang lolos syarat kan katanya bisa daftar jadi supir Uber. Tapi kalau di Jakarta, apa bisa begitu juga? Supir saya kemarin sih seperti supir profesional – menyetirnya enak, sopan dan baik. Saya nggak  kebayang deh kalau nanti orang biasa bisa jadi supir Uber juga… kira – kira bagaimana ya sistemnya?

Anyway, saya puas sekali menggunakan Uber. Saat ini mobilnya baru ada 20 di sekitaran Jakarta pusat – tetapi siap mengantarkan kemana saja. Benar – benar seperti punya supir pribadi ya 🙂

P.S kalau mau coba Uber dan dapat 1 kali free ride, silakan pakai kode saya ya “christinaj21” 😉

Kawinan di Indonesia

Post ini ditulis saat saya lagi nunggu boarding di bandara Sultan Hassanudin Makassar, ceritanya mau pulang ke Jakarta setelah business trip selama 1 hari (bentar banget ya!).

Dilihat dari judulnya, saya bukan akan nulis soal Makassar atau kerjaan saya disini, tapi soal kawinan!

Berawal dari iseng-iseng liat foto waktu malam minggu kemarin datang ke resepsi pernikahan (singkatnya kita sebut kawinan) teman di handphone, saya jadi kepikiran diskusi saya sama pacar.

Waktu itu saya lagi telponan sama pacar pas dijalan menuju ke sebuah kawinan. Dia bilang, “wah asik dong kamu bakal makan makan enak!” Saya bilang, “yah belum tentu sih.. Kalau masih ada.” Masalahnya saya kalau datang kawinan hobinya mepet, undangan jam 7-9 malam saya biasanya datang jam 8an.. Jadi salah saya sendiri sih kalau ngga kebagian makanan hehehe. Kalaupun datang cepat dan makanan masih melimpah, saya memang jarang bernafsu makan di kawinan, karena biasanya lebih sibuk haha-hihi atau foto-foto.

Ketika saya bilang gitu, pacar saya yang sudah lebih dari 10 tahun meninggalkan Indonesia itu jadi bingung kalau saya cerita ngga makan di kawinan, apalagi kalau saya ke kawinan numpang salaman sama pengantin nya doang lalu lanjut ke kawinan lainnya karena dapet 2 undangan sekaligus dalam sehari (rekor saya 4 kawinan dalam sehari! Hahaha).

Maklum, kalau di luar negeri tuh kawinan biasanya berupa sitting dinner ya, kayak di film-film gitu kan? Pokoknya pacar saya itu selalu cerita betapa melimpah dan enaknya masakan di kawinan. Hehehe.

Nah, kebetulan banget nih di kawinan yang malam minggu kemarin itu saya makan banyak! Hahaha, padahal lagi-lagi undangan jam 7 saya datangnya jam 8 lewat hampir setengah 9, tapi surprisingly makanan masih banyak, bahkan saya bisa makan main course sampai 2x hahahaha.

Saya jadi seru sendiri keasikan makan dan minta teman fotoin saya dengan makanan-makanannya untuk dikirim ke pacar 🙂 ini dia hasilnya…

20140609-164614-60374217.jpg

Kalo kamu yang di Indonesia, datang ke kawinan biasanya makan banyak atau ngga?

Berkunjung ke kantor Google Indonesia

Minggu lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi kantor Google Indonesia. Kebetulan, salah satu teman se-tim saya di Indonesia Mengglobal bekerja disana. Jadi, dia ngajak kita untuk numpang meeting di kantor Google, sekalian office tour. Katanya, Google mendukung karyawannya untuk mengajak teman /  keluarga / kenalan untuk main ke kantor Google dan juga dengan baik hati meminjamkan area kantornya (yang kebetulan memang meeting – friendly) untuk kegiatan after hours karyawannya.

Terletak di Gedung Sentral Senayan 2, kantor Google dari luar seperti kantor pada umumnya. Lobby nya tidak terlalu besar, dengan logo Google dan latar belakang batik di bagian resepsionis nya. Di bagian ini, karyawan Google yang membawa tamu harus melakukan registrasi untuk para tamunya. Setelah registrasi, barulah tamu bebas berkeliling kantor Google. Yak, bahkan bebas masuk area kerja – asalkan masih ditemani karyawan Google yang mengajak. Sebagai tamu, kita bebas foto – foto, asalkan tidak di area kerja para Googlers. Tapi terus terang saya tidak begitu tertarik melihat area kerjanya kok.. bentuknya kurang lebih sama seperti kantor – kantor agency yang saya pernah datangi – tidak bersekat.

Tapiii.. yang  bikin menarik dari area kerja di kantor Google ini adalah ruangan meeting nya. Kantor saya menggunakan nama – nama produk kami sebagai ruangan meeting. Misalnya, Fanta Lemon. A&W.  Coke Zero. Jadi kalau janjian meeting biasanya gini: “Nanti dimana? Fanta Lemon atau A&W?” Tadinya menurut saya, nama – nama itu sudah lumayan unik. Nah, kantor Google Indonesia mempunyai banyak ruangan meeting, mulai dari yang kapasitas 2 orang hingga yang besar. Namanya? Gelora Asmara, Pangkalan Ojek, Potong Bebek Angsa, Capcus, dan banyak macamnya! Seru banget kan? Ngga kebayang kalau ada ekspat yang musti nyebut “Capcus”, atau “Potong Bebek Angsa”… hahaha.. lucu kali ya 😀

Anyway, diluar ruangan meeting yang namanya lucu – lucu itu, kantor Google – seperti banyak artikel yang beredar, atau film The Internship, penuh hal menarik. Apalagi di common area nya. Kantor Google punya banyak common area  yang bisa digunakan untuk berbagai hal, mulai dari duduk – duduk santai, istirahat, mencari inspirasi, diskusi, dan juga, meeting!.

20140221-175022.jpg
Cozy meeting area

Oke sofa di gambar saya tampak menarik, tapi menurut saya masih kalah menarik dari area berikut ini…

20140221-175012.jpg
Yoga / nap place 😀

Kata teman saya, dia dan teman – teman nya pernah beberapa kali mengadakan workshop yoga disitu. Kalau sedang tidak dipakai yoga? Hmmm.. dipakai tidur siang juga bisa! :p

Selain tempat yoga / tidur siang diatas, kantor Google juga punya area bermain dan berolahraga. Ada meja ping-pong, alat TRX, fitness balls, dan juga excercise mats. Lumayan lengkap kan buat menjaga kebugaran selagi bekerja. Bagi gamers, ada juga sebuah TV layar lebar yang dilengkapi dengan X-Box. Seru yaaa 🙂

20140221-175002.jpg
The common room
20140221-174940.jpg
Mural in the common room
20140221-174952.jpg
Keeping you fit 😉

Nah, bagian terakhir dari kantor Google yang ingin saya ceritakan disini menurut saya bagian paling menarik, yaitu ruang makan! Hahahahaha. Dinamakan Warung Mbah Google, ruangan ini self-explanatory, tempat makannya para Googlers. Udah pada tahu kan kalau karyawan Google dapat makan gratis dikantornya? Menurut teman saya, tak hanya makan siang, tapi juga dari sarapan (roti dan berbagai macam selai tersedia sepanjang hari), hingga cemilan sore! Bahkan, ketika saya datang kesana sekitar jam 7, cemilan sore nya masih tersedia banyak, yaitu mini pizza, brownies, dan lumpia. Bagi saya sih cukup sekali yaa.. hehehe.

20140221-174907.jpg
Warung Mbah Google
20140221-175041.jpg
Warung Mbah Google

Yang lucu, tersedia sebuah rak kecil yang penuh dengan cemilan khas Indonesia. Mulai dari kripik – kripik tradisional, chiki, hingga coklat superman!

20140221-174928.jpg
All you can munch –  Indonesian snacks!

Oh iya, saya juga suka sekali dengan desain lantai dari Warung Mbah Google ini.. lihat deh 🙂

20140221-175032.jpg
#fromwhereistand – cute tiles!

Overall, senang sekali bisa berkesempatan mengunjungi kantor Google Indonesia. Kantornya seru, dan orang – orang yang saya temui juga ramah – ramah. Kata pepatah, rumput tetangga cenderung terlihat lebih hijau. Tetapi untuk kasus ini, menurut saya memang lebih hijau beneran! hehehe, habisnya, jarang kan ada kantor yang de-desain khusus untuk menjamin work and life balance para karyawan nya… 🙂

The US Trip: Pre – Departure

Note : This is the first post of “The US Trip” series – stories from my solo trip to US last year. Some posts (like this one), will be in Bahasa Indonesia, and some in English. Hopefully you’ll find both versions useful and enjoyable! -c

Tulisan tentang perjalanan saya ke Amerika Serikat ini harusnya sudah saya post sejak tahun lalu – segera setelah saya pulang ke Indonesia, di blog saya yang lama. Tetapiiii, banyak hal yang membuat tulisan ini terlambat, bahkan tulisan ini sudah “nangkring” di blog ini sejak bulan Januari! Yah, seperti pepatah yang terkenal “better late than never“, mari kita mulai cerita perjalanan saya ke Amerika Serikat.. dimulai dari “kehebohan” sebelum saya berangkat ya! 🙂

Visa 
Sebagai warga negara Indonesia, saya butuh visa untuk memasuki Amerika Serikat (AS). Walaupun saya sudah pernah pergi ke AS dua kali sebelumnya, waktu itu saya masih kecil – masih ikut orang tua. Kemarin adalah pengalaman pertama saya mengajukan permohonan visa dan juga berangkat sendirian, jadi saya rada deg – degan.

Saya deg – degan karena pasca kejadian 9/11, saya banyak mendengar cerita – cerita betapa susahnya mendapatkan visa turis AS – cerita penolakan yang absurd, juga cerita keribetan untuk apply visa turis tersebut. Jadi, saya berusaha mencari sebanyak – banyaknya informasi di internet, dengan harapan mematahkan gosip – gosip yang saya dengar. Yang pertama saya lakukan adalah browsing website nya Kedubes AS di Jakarta. Karena perjalanan saya ini murni perjalanan jalan – jalan, jenis visa yang saya butuhkan adalah visa turis – yang jika menurut website ini disebut dengan Visa Bisnis / Wisatawan (B1/B2). Disitu juga ditulis syarat – syarat yang diperlukan (tips: siapkan waktu untuk mengisi formulir DS-160 dengan menyeluruh!), dan setelah menyiapkan semua syarat nya, saya pun membuat perjanjian untuk wawancara di kantor kedubes AS di Jakarta.

Pada hari wawancara, saya juga membawa supporting documents yang sekiranya menurut saya bisa memperkuat aplikasi visa turis saya. Yang saya bawa adalah slip gaji dari kantor, buku tabungan, bukti pemesanan tiket pulang pergi (kebetulan saya sudah punya tiket Jakarta – Los Angeles PP sebelum bikin visa), dan juga paspor – paspor lama saya yang ada visa AS nya waktu saya berangkat kesana dengan  orang tua. Last time I checked, tidak ada halaman di website resmi pemerintah AS yang menyebutkan dengan spesifik jenis supporting documents yang harus dibawa – yang penting tiap aplikan visa turis  punya bukti yang konkrit bahwa perjalanan nya memang hanya sementara, murni jalan – jalan, dan bukan untuk berimigrasi ke AS!

Singkat cerita, wawancara saya di kedubes AS berjalan lancar. Saya sengaja memilih jam wawancara paling pagi. Jam 7 kurang saya sudah sampai, kemudian sekitar jam 9 saya sudah bisa pulang. Wawancara nya juga berjalan lancar – jauh sekali dari gosip – gosip yang saya dengar. Aplikasi visa turis saya pun disetujui hari itu juga! Wooohooo! Kabar baiknya, saya dapat visa multiple entry! jadii saya masih punya kesempatan untuk jalan – jalan mengelilingi AS di kemudian harinya. Ternyata, mengajukan aplikasi visa turis ke AS tidak seram, dan tidak juga seribet gosip – gosip yang saya dengar. Hore! 🙂

Tiket Pesawat Pulang – Pergi

Nah, soal tiket pesawat ini rada unik. Kenapa unik? karena saya sudah beli tiket pesawat PP sebelum saya bikin visa! Nekat? mungkin. Tetapi begini ceritanya. Saya memang sudah nabung untuk jalan – jalan ke AS sejak saya mulai bekerja di kantor yang sekarang. Kurang lebih nabung nya 2 tahun! Ngecek website tiket murah hampir – hampir jadi langganan setiap lagi merasa jenuh dengan aktifitas (atau setiap ada godaan untuk mecahin tabungan! :p), tetapi selama sekitar 2 tahun itu, tiket nya belum kebeli juga. Well, selain emang belum cukup uang nya, saya juga belum menemukan waktu cuti panjang yang tepat.

Sekitar bulan Juni 2013, saya merasa tabungan sudah cukup, dan hasrat pergi ke AS juga sudah semakin besar. Karena saya memang seorang planner, saya sudah merencanakan untuk apply visa turis AS, lalu jika sudah dapat, beli tiket pesawat dan kemudian benar – benar merencanakan perjalanan saya. Tetapi, di hari itu saya sedang iseng – iseng browsing dan menemukan promosi tiket dari Cathay Pacific yang harganya jauh lebih murah dari maskapai penerbangan lain. 

Tanpa pikir panjang, saya langsung memutuskan untuk membeli tiket tersebut – karena selama saya ngecek tiket 2 tahun kebelakang, saya belum pernah menemukan tiket Cathay semurah itu.  Kalaupun pernah menemukan tiket dengan harga segitu, maskapai penerbangan nya tidak se-bonafid Cathay Pacific dan mengharuskan saya untuk transit berjam – jam.

Tips dari saya untuk pencari tiket murah, sering – sering ngecek website maskapai penerbangan yang kamu inginkan, jangan hanya terpaku pada website penerbangan murah, karena kadang – kadang promo yang menarik justru bisa kamu temukan di website maskapai penerbangan tersebut!

Mata Uang

Saya rada apes, pas banget sebelum jadwal perjalanan saya ke AS, nilai tukar rupiah melemah dan menembus Rp.10.000 untuk USD 1! Dengan demikian, budget liburan saya terpotong sekitar 20% karena selama ini saya menabung menggunakan rupiah. Ada baiknya, kedepannya, kamu mempersiapkan tabungan dalam bentuk USD sehingga tidak harus terkena imbas nilai tukar seperti saya 🙂

Oke, sekian cerita persiapan saya sebelum berangkat ke AS. Cerita – cerita selanjutnya dalam seri “The US Trip” menyusul yaa! 🙂