Tahun Baru

Di awal tahun baru ini saya sempat mengalami serangan kecemasan ringan yang untungnya bisa saya hadapi dengan baik. Kata terapis saya kalau ada apa2 (maksudnya kalau lagi merasa overwhelmed sama pikiran2 dan jadi panik), hal pertama yang harus dilakukan adalah menerima keadaan tersebut dibandingkan dengan berusaha menghilangkannya saat itu juga (yang bisa berujung pada denial). Bener sih, dengan menerima, saya jadi bisa lebih mengerti diri sendiri dan juga mendapatkan sebab2 dari kepanikan atau kecemasan yang saya rasakan dan bisa move on dengan kondisi yang lebih baik.

Jadi, sebabnya adalah saya stress lihat kejadian kurang menguntungkan yang terjadi di dunia pada awal tahun kemarin, terutama banjir di Jakarta yang dirasakan imbasnya oleh beberapa rumah tante dan om saya juga teman baik saya. Tahu sendiri kan waktu di Amerika bagian sini lebih lambat daripada di Indonesia, jadi di saat saya lagi menunggu detik2 countdown di downtown LA, grup whatsapp keluarga lagi saling menanyakan kabar soal banjir dan sepupu saya kirim foto rumah keluarga yang kerendam air kira2 setinggi meja makan 😦 Hancurlah hatikuuu…

Terus kebetulan juga tahun ini saya punya banyak rencana pribadi yang ingin saya capai, yang sudah saya pikirkan dari akhir tahun lalu. Pengen ini, pengen itu, harus ini, harus itu.

Alhasil kena lah serangan panik. Kepala saya rasanya penuh, mikirin saya musti ngapain? liat kondisi dunia yang kacau terutama soal global warming, saya bisa apa? apa iya pakai sedotan kaca buat minum boba dan bawa kantong belanja kemana – mana cukup untuk mencegah dampak global warming? Belum lagi soal perkembangan diri sendiri. Saya mikirin gimana saya harus mulai hidup lebih sehat, nah terus lebih sehat itu indikator nya apa? Turun berat badan? mau memperbaiki kondisi sehat fisik apa mental? atau keduanya? Jadi harus olahraga dan melatih mindfulness? caranya gimana? nulis jurnal harian? bangun tidur minum air lemon hangat? Yaampun pusing kan… panik deh akhirnya.

Untung paniknya nggak berlangsung lama. Kejadiannya waktu itu pagi – pagi sehabis bangun tidur, jadi saya tenangkan diri dulu beberapa saat, sambil berusaha tidur kembali (untungnya masih libur). Ketika bangun kedua kalinya, pikiran sudah tenang dan badan lebih enteng rasanya. Fiuh.

Sejak saat itu, saya masih berusaha sih supaya nggak terlalu menaruh beban pada diri sendiri. Jalani hari demi hari sebaik mungkin aja, baik itu untuk lingkungan dan juga diri sendiri. Yang pasti saya coba lakukan tiap hari sih berusaha lebih aktif di tahun 2020 ini, demi tujuan hidup lebih sehat jiwa raga.

Semoga kita semua selalu sehat dan semangat ya! Salam semangat! 😀

10 tahun

Sudah lama saya nggak cerita di blog ini, nggak terasa kita sudah ada di akhir tahun 2019 aja! Tadinya saya sempat nulis draft kilas balik setahun kebelakang, eh tapi liat post nya Deny tentang perjalanan satu dekade, jadi tersinspirasi pengen ikutan cerita. Terima kasih ya Deny inspirasinya 🙂 Okelah, langsung aja kita mulai ceritanya…

2010 – 2013

Saya mulai dekade kemarin ini dengan optimisme tinggi. Awal tahun ada di Inggris, menyelesaikan program S2, usia saya 23. Tahun baruan di depan London Eye bareng teman – teman kuliah, bener – bener pengalaman yang nggak terlupakan sampai sekarang, termasuk pengalaman ketinggalan keluar kereta bersama seorang teman lain, hingga akhirnya harus menumpang nginap di tempat orang yang baru kenal (orang Indonesia juga) sambil nunggu kereta berikutnya di esok pagi… yaampun, hidup saya kayak kisah serial TV rasanya hahaha.

Setelah kemeriahan tahun baru 2010, saya bekerja keras mengerjakan tesis, lulus, pulang ke Indonesia, dan berjuang lagi mencari pekerjaan. Alhamdulilah dapat kerja di perusahaan yang sangat berkesan bagi saya, dan mulai bekerja di minggu pertama Januari 2011. Tapi nggak disangka, malam sebelum hari pertama kerja, saya diputusin pacar yang pada saat itu sudah pacaran lebih dari 2 tahun dan saya kira kami akan menikah di tahun 2011 itu. Hancurlah hidupkuuu.. hehehe. Setelah patah hati parah, saya berusaha untuk menata hidup kembali. Saya banyak berteman, baik dengan teman lama dan juga bertemu teman baru. Saya mencoba berbagai kegiatan baru, mulai dari olahraga hingga traveling.

Ternyata saya jatuh cinta dengan traveling. Waktu di Inggris saya sudah beberapa kali jalan – jalan sendiri, tapi nggak terlalu jauh dan lama. Di tahun 2012, saya pertama kali jalan – jalan sendiri keluar Indonesia dan ke negara yang saya nggak bisa bahasanya …. Vietnam dan Thailand. Setelah itu ketagihan, saya punya grup teman jalan yang kira – kira setahun 2x pergi liburan, mulai dari Surabaya, Bali, Karimun Jawa, Bromo, Padang, Lombok, Derawan.. seru!

2013 – 2016

Di tahun 2013, umur 26, saya pertama kali bertemu R 🙂 berawal dari iseng dan dorongan dari dalam diri saya untuk “menerima tantangan”, kami bertemu dan the rest is history. Kami sepakat menjalani hubungan jarak – jauh walau pada saat itu nggak tau arahnya kemana… tapi ada sesuatu dalam diri saya yang bilang kalau saya nggak boleh menyerah gitu aja. Well, here we are now! 🙂

Diluar percintaan, di tahun 2013 saya juga dapat promosi di kerjaan, dan akhirnya bisa jalan – jalan lebih sering hahaha. Waktu itu teman – teman di sekeliling saya banyak yang sudah mulai menikah, membeli properti, investasi, dan sebagainya… saya sibuk jalan – jalan aja hohoho. Sempet merasa “kecil” sedikit, tapi setelah saya pikir kembali sekarang ini – salah satu pelajaran hidup selama 10 tahun kebelakang adalah…. waktu orang beda – beda. Hidup orang beda – beda, jadi jangan pernah membandingkan hidup dengan orang lain.

Setelah promosi di tahun 2013 itu, saya terus membangun karir di perusahaan yang sama sampai kemudian di akhir tahun 2015 memutuskan untuk pindah perusahaan dan juga pindah industri. Awal tahun 2016 saya memulai karir di perusahaan baru, yang pada ujungnya memberikan sebuah pelajaran lagi… dan membuka mata saya tentang hal yang saya benar – benar inginkan, dan hal yang tidak saya inginkan.

Pelan tapi pasti hubungan saya dan R juga berjalan ke arah yang positif. Akhirnya, di tahun 2016 R melamar dan kami melakukan prosesi lamaran dengan keluarga dan teman terdekat di Jakarta, tanggalnya pas di hari ulang tahun mama 🙂

2017 – 2019

Saya memulai awal 2017 dengan melakukan perubahan di karir saya, memutuskan untuk berhenti kerja full-time dan memulai bekerja freelance. Sebuah keputusan yang cukup berani tapi pada saat itu saya harus mementingkan kesehatan fisik dan mental daripada jabatan dan karir.

Setelah berhenti kerja, saya melakukan perjalanan solo “terakhir” sebagai wanita lajang ke Shanghai dan juga mengunjungi Disneyland Shanghai. Sambil bekerja freelance di sebuah advertising agency di Jakarta Selatan, saya juga mengambil beberapa project online dan sempat kena tipu sekitar $500! Saya sudah mengerjakan tugas yang diminta tapi orangnya habis itu kabur… huhuhu. Ya sudahlah.

Di akhir 2017 saya menikah dengan R, lalu nggak lama kemudian saya pindah ke Amerika Serikat, memulai hidup baru. Pindah ke negara baru dengan status baru sama sekali nggak mudah, tapi alhamdulilah kami baik – baik aja sampai sekarang, dan hidup kami juga terus diberkati dan dibimbing ke arah yang baik.

Tahun 2018 saya kehilangan tante saya secara mendadak, kedatangan mama selama sebulan, berjuang melawan anxiety karena proses kepindahan dan perubahan yang terjadi… tahun 2019 saya mulai sekolah lagi, kedatangan adik selama 2 minggu, sambil tetap menunggu kabar baik yang belum tiba. Nggak apa – apa, semua akan terjadi di saat yang tepat 🙂

2020?

Nggak kerasa ya 10 tahun sudah berlalu dan benar – benar nggak nyangka perubahan yang terjadi dari awal dekade hingga akhir dekade. Nggak pernah kebayang kalau jodoh saya bakal ketemu di belahan dunia lain apalagi pindah ke negara lain ikut suami…

Jadi, harapan saya buat dekade berikutnya, apa ya… yang pasti saya kepengen banget sih mudah2an kabar baik nya bisa segera tiba, semoga semua rencana kami diberkati Allah dan dilancarkan, semoga keluarga di Indonesia baik – baik saja dan dapat rejeki mengunjungi kami disini kembali… dan juga untuk teman – teman semua, semoga lancar ya semua rencananya! ❤

P.S: Post kali ini nggak pakai foto soalnya kapasitas wordpress gratisan saya udah mau abis… hahaha… jadi dipilih – pilih deh upload fotonya 😉

P.P.S: Selamat hari raya Natal dan Tahun Baru untuk teman semua yang merayakan, untuk yang nggak merayakan selamat menikmati hari liburnya, untuk yang nggak merayakan dan nggak mau ngucapin yaudah nggak apa – apa, untuk yang nggak merayakan dan nggak mau ngucapin tapi ngelarang – larang ngucapin…… ya nggak apa-apa juga tapi nggak usah ikutan hari liburnya kali yaa.. biar adil gitu 😉 *peace out*

Suka Duka Tugas Kelompok

Sebagai anak kuliahan tentunya saya ketemu lagi sama yang namanya tugas kelompok. Apalagi program kuliah saya lebih fokus pada praktek dibanding teori jadilah semakin banyak tugas, termasuk kelompok.

Nah, tugas kelompok ini ternyata banyak suka duka nya dan rasanya kok saya baru berasa banget sekarang ini ya. Sungguh, mungkin udah kelamaan nggak sekolah tapi rasanya dulu – dulu kok nggak pernah mengalami dinamika tugas kelompok seperti sekarang ini?! Hehe..

Tugas kelompok ini rasanya benar – benar kayak ikut undian. Nggak ada yang tahu gimana hasilnya. Kalau beruntung, dapat kelompok yang enak banget dan lancar banget kerjanya. Kayak kelompok A saya (kita sebut aja begitu). Anggotanya 3 orang, dan hampir 3 bulan kami kerja bareng, nggak pernah ada masalah. Pernah saya agak beda pendapat sama mereka berdua, tapi saya anggap nggak penting lah jadi saya ngikut aja, eh hasilnya dapat A, berarti emang saya yang kurang paham kan konsepnya 😛 Kami juga pernah kerjain tugas bareng di cafe pinggir pantai yang dilanjut dengan happy hour hari Jumat malam.. seru ya :D. Pokoknya, kelompok yang ini oke banget deh!

Tapi saya pernah juga dapat kelompok, kita sebut aja kelompok B, yang semuanya diaaam seribu bahasa. Untungnya waktu kami kerja bareng cuma 1x kelas, proyeknya pun nggak punya bobot nilai yang besar. Aduh tapi kelompok ini, nggak ada yang mau inisiatif, masing – masing anggota kayaknya sibuk sendiri, alhasil saya yang musti mengarahkan diskusi kelompok untuk cari ide. Parahnya lagi 1 anggota nggak datang di waktu hari presentasi, tebak dong siapa yang ambil alih…?

Ada lagi kelompok yang semuanya mau ngomong. Nah kelompok C ini juga bikin pusing. Pernah kami menghabiskan waktu 20 menit cuma untuk muter – muter bahas sesuatu yang ujung – ujung nya nggak ada kesimpulan dan nggak jadi dipakai di dalam presentasi. Walaupun orang – orangnya baik dan nggak nyebelin, tapi entah kenapa kalau diskusi tuh kok rasanya pola pikir kami nggak nyambung semua ya… jadi seringkali capek muter – muter bahas sesuatu dan susah banget untuk menyamakan persepsi dan frekuensi. Haduh!

Ngomong- ngomong, nggak berasa deh, saya sudah berada di penghujung semester pertama program sertifikat saya ini. Baru mulai sih, belum ada setengah jalan. Sejauh ini saya suka banget kuliahnya, walaupun masih sering capek karena ternyata kuliah sebagai istri di umur 30an tuh beda banget yaa sama kuliah waktu masih lajang … hahahaha, badan rasanya capek mulu berbagi tugas antara kuliah dan mengurus rumah tangga. Walaupun sebenernya saya punya tanggung jawab yang sama dengan R dalam hal rumah tangga, tapi tetep aja sejak kuliah ini saya sering berasa capek banget… padahal dulu kuat kuat aja tuh kuliah, kerja part time dan siaran radio pas di Inggris! 😛 emang namanya umur nggak bisa boong deh 😉 Nanti kapan – kapan saya ceritain lebih lanjut deh tentang hal ini.

Thanks for reading and have a good weekend! 🙂

Wisuda

Waktu itu saya dan R sedang jalan – jalan keliling kampus UCLA. Kebetulan ada waktu 2 jam jeda di antara 2 kelas saya, dan karena R bertugas nganterin saya tiap ke kampus (maklum, SIM masih dalam proses dan lokasi kampus nggak aksesibel dengan kendaraan umum dari rumah saya), waktu jeda tersebut kami gunakan untuk jalan – jalan keliling kampus.

Kampus UCLA besar banget dan cukup asri, banyak pepohonan dan taman luas. Gedung -gedung nya campuran antara tua dan moderen. Salah satu gedung yang cukup menarik perhatian namanya Royce Hall. Royce Hall ini adalah gedung yang dipakai untuk tempat wisuda UCLA.

Sewaktu lagi lewat, R bilang, kalau dia rupanya sudah liat – liat informasi soal wisuda program saya. Saya ketawa dong dengarnya. Lah, baru juga minggu pertama, udah ngomongin wisuda aja.. masih ada sekitar 9 bulan lagi sampai saya selesai program sertifikat ini.

Lagian, saya bilang, ngapain ikut wisuda, saya kan nggak dapat gelar. Namanya juga program sertifikat. Yang ada di pikiran saya cuma belajar, refresh ilmu marketing saya, cari koneksi orang lokal, cari kerjaan di perusahaan yang bagus. Gak ada lah kepikiran wisuda.

Si R ngotot dong, dia bilang ikut wisuda itu penting. Mau dapat gelar kek, nggak kek, yang penting kamu kan nanti sudah menyelesaikan satu program, pantas ikut wisuda, katanya.

Tadinya saya juga nggak kalah ngotot, nggak mau lah, buang – buang uang. Lagian masih lama kali, baru bisa ikut wisuda tahun depan. Akhirnya kami nggak bahas lagi, kita lihat aja nanti, kata R. Dia malah sempet ngomong nanti mau ngajak mama dan adik saya buat datang wisuda sekalian mereka berkunjung. Masih tahun depan, banyak waktu untuk nabung, katanya. Walaah… heboh banget orang ini, pikir saya 😛

Eh tapi hari ini saya lihat foto teman di Instagram, dia pajang foto anaknya habis wisuda summer school. Fotonya pakai toga, pegang sertifikat. Lucu ya, menggemaskan. Tapi caption dia yang bikin saya mikir. Awalnya terus terang saya lihat foto itu ketawa, dalam hati mikir, ada – ada aja, anak kecil kok wisuda. Tapi setelah baca caption nya (yang nggak usah saya tulis disini ya karena terlalu personal buat teman saya kayaknya), saya jadi mikir.

Wisuda, apa pun programnya, bagi sebagian orang bisa menjadi momen perayaan keberhasilan. Buat si anak TK, berhasil berkembang dari yang tadinya masih ngompol sampai sudah bisa melakukan berbagai hal sendiri. Wisuda SMA, jadi momen merayakan akhirnya masa anak – anak dan menyambut masa dewasa jadi anak kuliah. Wisuda S1, S2, S3 bisa jadi momen merayakan prestasi akademis. Dan masih banyak jenis – jenis wisuda lainnya, yang sah – sah aja untuk dirayakan.

Iya, saya memang nggak akan dapat gelar dari program sertifikat ini. Tapi kenapa saya harus bersikap too hard on myself sampai nggak ingin datang wisuda? Bukannya keberhasilan saya (nanti) juga patut dirayakan? kan saya sendiri yang merasakan lika – liku perjalanan saya dalam proses back to school ini. Yang begadang ngerjain tugas kan saya, yang kerja lembur untuk bayarin sekolahnya suami saya, yang kasih semangat lewat Facetime waktu saya lagi kerjain tugas ya mama dan adik saya.. jadi kalau wisuda saya nanti bisa jadi momen untuk membuat suami dan keluarga saya senang, kenapa nggak? 🙂

Jadi, sekarang pola pikir saya tentang wisuda berubah. Lucu ya, hal simpel seperti foto di Instagram yang saya lihat sambil lalu ternyata bisa memberikan efek yang signifikan. Until then, doakan saya bisa menyelesaikan program nya dengan sukses dulu ya! Baru deh daftar wisuda 😉

Es Kopi Ala Dapur Christa

Ahaha gaya banget ya judulnya. Ini semua hasil ngidam es kopi sebangsa Tuku dan teman – temannya yang dulu sering banget saya minum di Jakarta. Disini banyak banget sih yang jual es kopi, mulai dari es kopi Vietnam, es kopi di McD, es kopi di Dunkin Donuts, es kopi di tempat Boba, sampai es kopi gaul buatan Blue Bottle Coffee.. tapi rasanya nggak ada yang sesuai es kopi Jakarta.

Kebetulan awal tahun kemarin saya beli mesin kopi rumahan demi menghemat pengeluaran jajan kopi, dan jadi rajin eksperimen bikin kopi sendiri di rumah. Sejauh ini sih saya udah merasa puas dengan latte bikinan sendiri pakai bubuk kopi (Iya kopinya beli bubuk aja, belum punya grinder soalnya hehe) keluaran Trader Joe’s… walaupun belum bisa bikin latte art. Tapi sudahlah, kan buat minum sendiri, yang penting rasa enak tanpa dicantik – cantikin.

Tapi tetep deh ada yang kurang gitu rasanya.. masih kangen banget rasa es kopi Jakarta yang khas, apalagi sudah mulai masuk musim panas. Saya coba cari – cari resep dengan keyword “es kopi ala Tuku” dan muncullah beberapa resep. Rata – rata semuanya sih bahannya hampir sama – kopi, susu / krimer, gula aren, kadang – kadang ada resep yang pakai susu kelapa atau gula merah.

Setelah beberapa kali coba – coba akhirnya saya ketemu juga resep es kopi susu yang menurut saya paling pas, hore! Resep nya menggunakan bahan – bahan yang mudah didapatkan di Amerika, gampang banget cuma 3 bahan. Supaya nggak lupa, saya mau share aja di blog, siapa tau ada yang mau coba dan cocok juga 🙂

Resep dan Cara Buat Es Kopi Susu ala Dapur Christa

18oz (~532ml) Espresso – dengan mesin kopi diatas, ini perlu 3x seduh, karena sekali seduh hasilnya 6oz (~177ml). Kopinya saya pakai Organic Sumatra Mandheling dari Archer Farms yang beli di Target. Kopinya medium roast, menurut saya rasanya cukup smooth dan rasa kopinya nggak hilang begitu sudah dicampur sama bahan – bahan lainnya ketika jadi es kopi.

16oz (~473ml) Half&Half – Saya pakai Half&Half merek Great Value keluaran Walmart. Karena kebetulan kemarin belanjanya di Walmart, haha. Sejauh ini saya selalu pakai merek yang beda – beda, tergantung lagi belanja dimana, dan rasanya sama aja kok. Tapi kebetulan udah 2x pakai merek ini karena takarannya pas, 1 kemasan buat 1 resep.

2-3 tbsp (~30-45ml) Maple Syrup – Nah ini dia bahan ketiganya. Karena saya masih ragu dengan gula aren / palm sugar disini, saya memutuskan pakai maple syrup aja sebagai pemanisnya. Saya pakai Organic Maple Syrup Grade A Dark Color merek Coombs Family Farms. Takarannya bisa disesuaikan aja sesuai selera, suka manis atau nggak. Menurut sayaaa rasa Maple Syrup mirip lah sama rasa gula aren yang saya ingat di berbagai es kopi hits ala Tuku pas di Jakarta.

Setelah semua bahan dituang ke dalam botol, dikocok – kocok supaya bikin tambah smooth rasanya. Sejauh ini sih saya puas dengan resep ini, si R juga suka, cuma ya karena alatnya terbatas, jadi bikinnya lamaa.. kudu sabar nyeduh kopi 3x hahaha. Nggak apa – apa lah, kan bikinnya nggak tiap hari, buat obat kangen aja 🙂

Catatan Ramadan 2019

Nggak berasa ya, sekarang sudah hari – hari terakhir bulan Ramadan. Ini adalah Ramadan kali kedua saya di Amerika, kali kedua sebagai istri, jadi tentunya banyak hal menarik yang bisa saya rangkum buat bahan kenang – kenangan di blog 🙂 Oh iya kalau mau baca cerita Ramadan tahun 2018 disini, tahun 2017 disini ya.

Oke, lanjut. Awal bulan Ramadan kali ini saya berasa lemes banget, rasanya puasa tuh berat banget, hampir seminggu saya jam 3 siang udah berasa lemes, lesu, kedinginan, dan cuma bisa tidur sampai menjelang buka puasa jam 7:30 malam. Saya sempet nanya2 di Twitter, gimana sih tips nya puasa panjang, dan juga nanya2 sama teman disini. Jawabannya bervariasi sih, tapi banyak yang bilang, makan kurma! Alhasil saya coba deh sahur pakai kurma, begitu juga pas buka puasa. Eh bener lho, nggak tau karena kurma nya, atau karena badan sudah beradaptasi, Alhamdulilah habis itu saya kuat puasa, nggak pakai lemes – lemes dan kedinginan lagi.

Sama seperti tema keagamaan pribadi saya akhir – akhir ini, tujuan saya di Ramadan ini pengen cari kedamaian dan ketenangan hati. Lumayan luas ya artinya, tapi Alhamdulilah saya mulai dituntun ke arah yang bikin saya senyum – senyum di bulan Ramadan ini, melalui bentuk yang bermacam – macam. Hehe, bingung nggak? Intinya memang kedamaian dan ketenangan hati itu memang personal sekali ya sifatnya.

Ramadan kali ini saya banyak menghabiskan waktu sendiri. Jadi karena sempat merasa lemas di awal Ramadan, saya memutuskan untuk libur sejenak dari berbagai kerjaan freelance saya. Eh, di minggu kedua saya sudah sehat, malah R yang kerjanya sibuk banget dan lembur terus. Jadilah saya sering buka puasa sendirian dan banyak waktu untuk mempelajari hal – hal yang memang ingin dipelajari 🙂

Tapi, mungkin karena saya banyak sendiri, mungkin karena sudah satu tahun lebih belum pulang ke Indonesia, Ramadan kali ini saya merasa kangen banget dengan Indonesia. Kangen keluarga besar, kangen komunitas, kangen puasa bareng – bareng, bahkan saya sempet bilang sama R “duh sedih juga ya disini sepi puasanya, nih lihat deh temen2 di Jakarta pada saling kirim2an hampers lebaran, disini mana ada yang kasih hampers” Cetek banget ya keinginan saya hahaha, tapi bener sempet ngomong gitu ke R pas saya lihat instastory teman – teman di Jakarta yang saling berbagi kiriman makanan berbuka atau sahur.

Eh, nggak taunya, nggak disangka hari Jumat ini ada teman saya telpon pagi – pagi, bilang mau mampir ke rumah karena dia lagi ada urusan di daerah saya. Pas buka pager, dia dan suaminya nenteng hampers dong buat kami! Isinya puding coklat rumahan pakai fla, yang nggak sabar saya makan buat berbuka puasa nanti. Yaampun, terharu banget deh. Beneran saya bilang, gak ada kepikiran sama sekali bakal dapat sesuatu buat lebaran disini, karena kan beda aja ya budayanya. Taunya malah dapet kiriman, Alhamdulillah 🙂 Kadang – kadang, keajaiban itu bukan sesuatu yang masif, tapi tetap aja efeknya bisa membuat hati tenang, senang, dan senyum – senyum seharian. Alhamdulillah 🙂

Semoga Ramadan kali ini juga memberikan ketenangan dan kedamaian bagi kamu, kamu, dan kamu, dimanapun kamu berada. Semoga kita masih dipertemukan dengan Ramadan berikutnya dan bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi di hari – hari selanjutnya, dan semoga kita tetap diberkahi dengan keajaiban – keajaiban besar atau kecil yang membuat hati senang. Mohon maaf lahir dan batin, selamat menjelang lebaran ya!