Kawinan di Indonesia

Post ini ditulis saat saya lagi nunggu boarding di bandara Sultan Hassanudin Makassar, ceritanya mau pulang ke Jakarta setelah business trip selama 1 hari (bentar banget ya!).

Dilihat dari judulnya, saya bukan akan nulis soal Makassar atau kerjaan saya disini, tapi soal kawinan!

Berawal dari iseng-iseng liat foto waktu malam minggu kemarin datang ke resepsi pernikahan (singkatnya kita sebut kawinan) teman di handphone, saya jadi kepikiran diskusi saya sama pacar.

Waktu itu saya lagi telponan sama pacar pas dijalan menuju ke sebuah kawinan. Dia bilang, “wah asik dong kamu bakal makan makan enak!” Saya bilang, “yah belum tentu sih.. Kalau masih ada.” Masalahnya saya kalau datang kawinan hobinya mepet, undangan jam 7-9 malam saya biasanya datang jam 8an.. Jadi salah saya sendiri sih kalau ngga kebagian makanan hehehe. Kalaupun datang cepat dan makanan masih melimpah, saya memang jarang bernafsu makan di kawinan, karena biasanya lebih sibuk haha-hihi atau foto-foto.

Ketika saya bilang gitu, pacar saya yang sudah lebih dari 10 tahun meninggalkan Indonesia itu jadi bingung kalau saya cerita ngga makan di kawinan, apalagi kalau saya ke kawinan numpang salaman sama pengantin nya doang lalu lanjut ke kawinan lainnya karena dapet 2 undangan sekaligus dalam sehari (rekor saya 4 kawinan dalam sehari! Hahaha).

Maklum, kalau di luar negeri tuh kawinan biasanya berupa sitting dinner ya, kayak di film-film gitu kan? Pokoknya pacar saya itu selalu cerita betapa melimpah dan enaknya masakan di kawinan. Hehehe.

Nah, kebetulan banget nih di kawinan yang malam minggu kemarin itu saya makan banyak! Hahaha, padahal lagi-lagi undangan jam 7 saya datangnya jam 8 lewat hampir setengah 9, tapi surprisingly makanan masih banyak, bahkan saya bisa makan main course sampai 2x hahahaha.

Saya jadi seru sendiri keasikan makan dan minta teman fotoin saya dengan makanan-makanannya untuk dikirim ke pacar ūüôā ini dia hasilnya…

20140609-164614-60374217.jpg

Kalo kamu yang di Indonesia, datang ke kawinan biasanya makan banyak atau ngga?

Berkunjung ke kantor Google Indonesia

Minggu lalu, saya berkesempatan untuk mengunjungi kantor Google Indonesia. Kebetulan, salah satu teman se-tim saya di Indonesia Mengglobal bekerja disana. Jadi, dia ngajak kita untuk numpang meeting di kantor Google, sekalian office tour. Katanya, Google mendukung karyawannya untuk mengajak teman /  keluarga / kenalan untuk main ke kantor Google dan juga dengan baik hati meminjamkan area kantornya (yang kebetulan memang meeting Рfriendly) untuk kegiatan after hours karyawannya.

Terletak di Gedung Sentral Senayan 2, kantor Google dari luar seperti kantor pada umumnya. Lobby nya tidak terlalu besar, dengan logo Google dan latar belakang batik di bagian resepsionis nya. Di bagian ini, karyawan Google yang membawa tamu harus melakukan registrasi untuk para tamunya. Setelah registrasi, barulah tamu bebas berkeliling kantor Google. Yak, bahkan bebas masuk area kerja Рasalkan masih ditemani karyawan Google yang mengajak. Sebagai tamu, kita bebas foto Рfoto, asalkan tidak di area kerja para Googlers. Tapi terus terang saya tidak begitu tertarik melihat area kerjanya kok.. bentuknya kurang lebih sama seperti kantor Рkantor agency yang saya pernah datangi Рtidak bersekat.

Tapiii.. yang ¬†bikin menarik dari area kerja di kantor Google ini adalah ruangan meeting nya. Kantor saya menggunakan nama – nama produk kami sebagai ruangan meeting. Misalnya, Fanta Lemon. A&W. ¬†Coke Zero. Jadi kalau janjian meeting¬†biasanya gini: “Nanti dimana? Fanta Lemon atau A&W?” Tadinya menurut saya, nama – nama itu sudah lumayan unik. Nah, kantor Google Indonesia mempunyai banyak ruangan¬†meeting, mulai dari yang kapasitas 2 orang hingga yang besar. Namanya? Gelora Asmara, Pangkalan Ojek, Potong Bebek Angsa, Capcus, dan banyak macamnya! Seru banget kan? Ngga kebayang kalau ada ekspat yang musti nyebut “Capcus”, atau “Potong Bebek Angsa”… hahaha.. lucu kali ya ūüėÄ

Anyway, diluar ruangan meeting yang namanya lucu Рlucu itu, kantor Google Рseperti banyak artikel yang beredar, atau film The Internship, penuh hal menarik. Apalagi di common area nya. Kantor Google punya banyak common area  yang bisa digunakan untuk berbagai hal, mulai dari duduk Рduduk santai, istirahat, mencari inspirasi, diskusi, dan juga, meeting!.

20140221-175022.jpg
Cozy meeting area

Oke sofa di gambar saya tampak menarik, tapi menurut saya masih kalah menarik dari area berikut ini…

20140221-175012.jpg
Yoga / nap place ūüėÄ

Kata teman saya, dia dan teman – teman nya pernah beberapa kali mengadakan workshop yoga disitu. Kalau sedang tidak dipakai yoga? Hmmm.. dipakai tidur siang juga bisa! :p

Selain tempat yoga / tidur siang diatas, kantor Google juga punya area bermain dan berolahraga. Ada meja ping-pong, alat TRX, fitness balls, dan juga excercise mats. Lumayan lengkap kan buat menjaga kebugaran selagi bekerja. Bagi gamers, ada juga sebuah TV layar lebar yang dilengkapi dengan X-Box. Seru yaaa ūüôā

20140221-175002.jpg
The common room
20140221-174940.jpg
Mural in the common room
20140221-174952.jpg
Keeping you fit ūüėČ

Nah, bagian terakhir dari kantor Google yang ingin saya ceritakan disini menurut saya bagian paling menarik, yaitu ruang makan! Hahahahaha. Dinamakan Warung Mbah Google, ruangan ini self-explanatory, tempat makannya para Googlers. Udah pada tahu kan kalau karyawan Google dapat makan gratis dikantornya? Menurut teman saya, tak hanya makan siang, tapi juga dari sarapan (roti dan berbagai macam selai tersedia sepanjang hari), hingga cemilan sore! Bahkan, ketika saya datang kesana sekitar jam 7, cemilan sore nya masih tersedia banyak, yaitu mini pizza, brownies, dan lumpia. Bagi saya sih cukup sekali yaa.. hehehe.

20140221-174907.jpg
Warung Mbah Google
20140221-175041.jpg
Warung Mbah Google

Yang lucu, tersedia sebuah rak kecil yang penuh dengan cemilan khas Indonesia. Mulai dari kripik – kripik tradisional, chiki, hingga coklat superman!

20140221-174928.jpg
All you can munch –¬† Indonesian snacks!

Oh iya, saya juga suka sekali dengan desain lantai dari Warung Mbah Google ini.. lihat deh ūüôā

20140221-175032.jpg
#fromwhereistand – cute tiles!

Overall, senang sekali bisa berkesempatan mengunjungi kantor Google Indonesia. Kantornya seru, dan orang – orang yang saya temui juga ramah – ramah. Kata pepatah, rumput tetangga cenderung terlihat lebih hijau. Tetapi untuk kasus ini, menurut saya memang lebih hijau beneran! hehehe, habisnya, jarang kan ada kantor yang de-desain khusus untuk menjamin work and life balance para karyawan nya… ūüôā

The US Trip: Pre – Departure

Note : This is the first post of “The US Trip” series – stories from my solo trip to US last year. Some posts (like this one), will be in Bahasa Indonesia, and some in English. Hopefully you’ll find both versions useful and enjoyable! -c

Tulisan tentang perjalanan saya ke Amerika Serikat ini harusnya sudah saya post sejak tahun lalu – segera setelah saya pulang ke Indonesia, di blog saya yang lama. Tetapiiii, banyak hal yang membuat tulisan ini terlambat, bahkan tulisan ini sudah “nangkring” di blog ini sejak bulan Januari! Yah, seperti pepatah yang terkenal “better late than never“, mari kita mulai cerita perjalanan saya ke Amerika Serikat.. dimulai dari “kehebohan” sebelum saya berangkat ya! ūüôā

Visa 
Sebagai warga negara Indonesia, saya butuh visa untuk memasuki Amerika Serikat (AS). Walaupun saya sudah pernah pergi ke AS dua kali sebelumnya, waktu itu saya masih kecil – masih ikut orang tua. Kemarin adalah pengalaman pertama saya mengajukan permohonan visa dan juga berangkat sendirian, jadi saya rada deg – degan.

Saya deg Рdegan karena pasca kejadian 9/11, saya banyak mendengar cerita Рcerita betapa susahnya mendapatkan visa turis AS Рcerita penolakan yang absurd, juga cerita keribetan untuk apply visa turis tersebut. Jadi, saya berusaha mencari sebanyak Рbanyaknya informasi di internet, dengan harapan mematahkan gosip Рgosip yang saya dengar. Yang pertama saya lakukan adalah browsing website nya Kedubes AS di Jakarta. Karena perjalanan saya ini murni perjalanan jalan Рjalan, jenis visa yang saya butuhkan adalah visa turis Рyang jika menurut website ini disebut dengan Visa Bisnis / Wisatawan (B1/B2). Disitu juga ditulis syarat Рsyarat yang diperlukan (tips: siapkan waktu untuk mengisi formulir DS-160 dengan menyeluruh!), dan setelah menyiapkan semua syarat nya, saya pun membuat perjanjian untuk wawancara di kantor kedubes AS di Jakarta.

Pada hari wawancara, saya juga membawa supporting documents yang sekiranya menurut saya bisa memperkuat aplikasi visa turis saya. Yang saya bawa adalah slip gaji dari kantor, buku tabungan, bukti pemesanan tiket pulang pergi (kebetulan saya sudah punya tiket Jakarta РLos Angeles PP sebelum bikin visa), dan juga paspor Рpaspor lama saya yang ada visa AS nya waktu saya berangkat kesana dengan  orang tua. Last time I checked, tidak ada halaman di website resmi pemerintah AS yang menyebutkan dengan spesifik jenis supporting documents yang harus dibawa Рyang penting tiap aplikan visa turis  punya bukti yang konkrit bahwa perjalanan nya memang hanya sementara, murni jalan Рjalan, dan bukan untuk berimigrasi ke AS!

Singkat cerita, wawancara saya di kedubes AS berjalan lancar. Saya sengaja memilih jam wawancara paling pagi. Jam 7 kurang saya sudah sampai, kemudian sekitar jam 9 saya sudah bisa pulang. Wawancara nya juga berjalan lancar – jauh sekali dari gosip – gosip yang saya dengar. Aplikasi visa turis saya pun disetujui hari itu juga! Wooohooo! Kabar baiknya, saya dapat visa¬†multiple entry!¬†jadii saya masih punya kesempatan untuk jalan – jalan mengelilingi AS di kemudian harinya. Ternyata, mengajukan aplikasi visa turis ke AS tidak seram, dan tidak juga seribet gosip – gosip yang saya dengar. Hore! ūüôā

Tiket Pesawat Pulang – Pergi

Nah, soal tiket pesawat ini rada unik. Kenapa unik? karena saya sudah beli tiket pesawat PP sebelum saya bikin visa! Nekat? mungkin. Tetapi begini ceritanya. Saya memang sudah nabung untuk jalan Рjalan ke AS sejak saya mulai bekerja di kantor yang sekarang. Kurang lebih nabung nya 2 tahun! Ngecek website tiket murah hampir Рhampir jadi langganan setiap lagi merasa jenuh dengan aktifitas (atau setiap ada godaan untuk mecahin tabungan! :p), tetapi selama sekitar 2 tahun itu, tiket nya belum kebeli juga. Well, selain emang belum cukup uang nya, saya juga belum menemukan waktu cuti panjang yang tepat.

Sekitar bulan Juni 2013, saya merasa tabungan sudah cukup, dan hasrat pergi ke AS juga sudah semakin besar. Karena saya memang seorang planner, saya sudah merencanakan untuk apply visa turis AS, lalu jika sudah dapat, beli tiket pesawat dan kemudian benar Рbenar merencanakan perjalanan saya. Tetapi, di hari itu saya sedang iseng Рiseng browsing dan menemukan promosi tiket dari Cathay Pacific yang harganya jauh lebih murah dari maskapai penerbangan lain. 

Tanpa pikir panjang, saya langsung memutuskan untuk membeli tiket tersebut Рkarena selama saya ngecek tiket 2 tahun kebelakang, saya belum pernah menemukan tiket Cathay semurah itu.  Kalaupun pernah menemukan tiket dengan harga segitu, maskapai penerbangan nya tidak se-bonafid Cathay Pacific dan mengharuskan saya untuk transit berjam Рjam.

Tips dari saya untuk pencari tiket murah, sering Рsering ngecek website maskapai penerbangan yang kamu inginkan, jangan hanya terpaku pada website penerbangan murah, karena kadang Рkadang promo yang menarik justru bisa kamu temukan di website maskapai penerbangan tersebut!

Mata Uang

Saya rada apes, pas banget sebelum jadwal perjalanan saya ke AS, nilai tukar rupiah melemah dan menembus Rp.10.000 untuk USD 1! Dengan demikian,¬†budget liburan saya terpotong sekitar 20% karena selama ini saya menabung menggunakan rupiah. Ada baiknya, kedepannya, kamu mempersiapkan tabungan dalam bentuk USD sehingga tidak harus terkena imbas nilai tukar seperti saya ūüôā

Oke, sekian cerita persiapan saya sebelum berangkat ke AS. Cerita – cerita selanjutnya dalam seri “The US Trip” menyusul yaa! ūüôā