Suka Duka Tugas Kelompok

Sebagai anak kuliahan tentunya saya ketemu lagi sama yang namanya tugas kelompok. Apalagi program kuliah saya lebih fokus pada praktek dibanding teori jadilah semakin banyak tugas, termasuk kelompok.

Nah, tugas kelompok ini ternyata banyak suka duka nya dan rasanya kok saya baru berasa banget sekarang ini ya. Sungguh, mungkin udah kelamaan nggak sekolah tapi rasanya dulu – dulu kok nggak pernah mengalami dinamika tugas kelompok seperti sekarang ini?! Hehe..

Tugas kelompok ini rasanya benar – benar kayak ikut undian. Nggak ada yang tahu gimana hasilnya. Kalau beruntung, dapat kelompok yang enak banget dan lancar banget kerjanya. Kayak kelompok A saya (kita sebut aja begitu). Anggotanya 3 orang, dan hampir 3 bulan kami kerja bareng, nggak pernah ada masalah. Pernah saya agak beda pendapat sama mereka berdua, tapi saya anggap nggak penting lah jadi saya ngikut aja, eh hasilnya dapat A, berarti emang saya yang kurang paham kan konsepnya ๐Ÿ˜› Kami juga pernah kerjain tugas bareng di cafe pinggir pantai yang dilanjut dengan happy hour hari Jumat malam.. seru ya :D. Pokoknya, kelompok yang ini oke banget deh!

Tapi saya pernah juga dapat kelompok, kita sebut aja kelompok B, yang semuanya diaaam seribu bahasa. Untungnya waktu kami kerja bareng cuma 1x kelas, proyeknya pun nggak punya bobot nilai yang besar. Aduh tapi kelompok ini, nggak ada yang mau inisiatif, masing – masing anggota kayaknya sibuk sendiri, alhasil saya yang musti mengarahkan diskusi kelompok untuk cari ide. Parahnya lagi 1 anggota nggak datang di waktu hari presentasi, tebak dong siapa yang ambil alih…?

Ada lagi kelompok yang semuanya mau ngomong. Nah kelompok C ini juga bikin pusing. Pernah kami menghabiskan waktu 20 menit cuma untuk muter – muter bahas sesuatu yang ujung – ujung nya nggak ada kesimpulan dan nggak jadi dipakai di dalam presentasi. Walaupun orang – orangnya baik dan nggak nyebelin, tapi entah kenapa kalau diskusi tuh kok rasanya pola pikir kami nggak nyambung semua ya… jadi seringkali capek muter – muter bahas sesuatu dan susah banget untuk menyamakan persepsi dan frekuensi. Haduh!

Ngomong- ngomong, nggak berasa deh, saya sudah berada di penghujung semester pertama program sertifikat saya ini. Baru mulai sih, belum ada setengah jalan. Sejauh ini saya suka banget kuliahnya, walaupun masih sering capek karena ternyata kuliah sebagai istri di umur 30an tuh beda banget yaa sama kuliah waktu masih lajang … hahahaha, badan rasanya capek mulu berbagi tugas antara kuliah dan mengurus rumah tangga. Walaupun sebenernya saya punya tanggung jawab yang sama dengan R dalam hal rumah tangga, tapi tetep aja sejak kuliah ini saya sering berasa capek banget… padahal dulu kuat kuat aja tuh kuliah, kerja part time dan siaran radio pas di Inggris! ๐Ÿ˜› emang namanya umur nggak bisa boong deh ๐Ÿ˜‰ Nanti kapan – kapan saya ceritain lebih lanjut deh tentang hal ini.

Thanks for reading and have a good weekend! ๐Ÿ™‚

Advertisements

Wisuda

Waktu itu saya dan R sedang jalan – jalan keliling kampus UCLA. Kebetulan ada waktu 2 jam jeda di antara 2 kelas saya, dan karena R bertugas nganterin saya tiap ke kampus (maklum, SIM masih dalam proses dan lokasi kampus nggak aksesibel dengan kendaraan umum dari rumah saya), waktu jeda tersebut kami gunakan untuk jalan – jalan keliling kampus.

Kampus UCLA besar banget dan cukup asri, banyak pepohonan dan taman luas. Gedung -gedung nya campuran antara tua dan moderen. Salah satu gedung yang cukup menarik perhatian namanya Royce Hall. Royce Hall ini adalah gedung yang dipakai untuk tempat wisuda UCLA.

Sewaktu lagi lewat, R bilang, kalau dia rupanya sudah liat – liat informasi soal wisuda program saya. Saya ketawa dong dengarnya. Lah, baru juga minggu pertama, udah ngomongin wisuda aja.. masih ada sekitar 9 bulan lagi sampai saya selesai program sertifikat ini.

Lagian, saya bilang, ngapain ikut wisuda, saya kan nggak dapat gelar. Namanya juga program sertifikat. Yang ada di pikiran saya cuma belajar, refresh ilmu marketing saya, cari koneksi orang lokal, cari kerjaan di perusahaan yang bagus. Gak ada lah kepikiran wisuda.

Si R ngotot dong, dia bilang ikut wisuda itu penting. Mau dapat gelar kek, nggak kek, yang penting kamu kan nanti sudah menyelesaikan satu program, pantas ikut wisuda, katanya.

Tadinya saya juga nggak kalah ngotot, nggak mau lah, buang – buang uang. Lagian masih lama kali, baru bisa ikut wisuda tahun depan. Akhirnya kami nggak bahas lagi, kita lihat aja nanti, kata R. Dia malah sempet ngomong nanti mau ngajak mama dan adik saya buat datang wisuda sekalian mereka berkunjung. Masih tahun depan, banyak waktu untuk nabung, katanya. Walaah… heboh banget orang ini, pikir saya ๐Ÿ˜›

Eh tapi hari ini saya lihat foto teman di Instagram, dia pajang foto anaknya habis wisuda summer school. Fotonya pakai toga, pegang sertifikat. Lucu ya, menggemaskan. Tapi caption dia yang bikin saya mikir. Awalnya terus terang saya lihat foto itu ketawa, dalam hati mikir, ada – ada aja, anak kecil kok wisuda. Tapi setelah baca caption nya (yang nggak usah saya tulis disini ya karena terlalu personal buat teman saya kayaknya), saya jadi mikir.

Wisuda, apa pun programnya, bagi sebagian orang bisa menjadi momen perayaan keberhasilan. Buat si anak TK, berhasil berkembang dari yang tadinya masih ngompol sampai sudah bisa melakukan berbagai hal sendiri. Wisuda SMA, jadi momen merayakan akhirnya masa anak – anak dan menyambut masa dewasa jadi anak kuliah. Wisuda S1, S2, S3 bisa jadi momen merayakan prestasi akademis. Dan masih banyak jenis – jenis wisuda lainnya, yang sah – sah aja untuk dirayakan.

Iya, saya memang nggak akan dapat gelar dari program sertifikat ini. Tapi kenapa saya harus bersikap too hard on myself sampai nggak ingin datang wisuda? Bukannya keberhasilan saya (nanti) juga patut dirayakan? kan saya sendiri yang merasakan lika – liku perjalanan saya dalam proses back to school ini. Yang begadang ngerjain tugas kan saya, yang kerja lembur untuk bayarin sekolahnya suami saya, yang kasih semangat lewat Facetime waktu saya lagi kerjain tugas ya mama dan adik saya.. jadi kalau wisuda saya nanti bisa jadi momen untuk membuat suami dan keluarga saya senang, kenapa nggak? ๐Ÿ™‚

Jadi, sekarang pola pikir saya tentang wisuda berubah. Lucu ya, hal simpel seperti foto di Instagram yang saya lihat sambil lalu ternyata bisa memberikan efek yang signifikan. Until then, doakan saya bisa menyelesaikan program nya dengan sukses dulu ya! Baru deh daftar wisuda ๐Ÿ˜‰

Sunday

I woke up early, and we decided to get breakfast. We tried a brunch cafe not far from our house, only 10 minutes drive away. We were the first guests when we arrived at 7AM, right when they just opened. Not long after, another couple came in. Then another. And another. It was a full house by 7:30AM. Wow, it looks like the cafe is quite popular in the neighborhood. Why haven’t we been here before, I asked R. Let’s try the food first, he said.

I ordered a typical American breakfast menu – eggs, sausage, potatoes and toast. Only I asked for the toast to be changed to english muffins. It’s the closest I can get to crumpets here :)))) R ordered pesto bagel – it was really good, he said. I also had a cup of latte which was not bad at all, similar to what I usually make at home. But it’s Sunday, I want someone to make my coffee because I don’t wan’t to deal with the dishes :)))))

After breakfast we spent a bit of time at the beach, then went back home. I did some freelance work, R went on relaxing. He needed the rest&relaxation day after his long week.

I was too caught up with work when I realised it’s already past 4PM and we haven’t had lunch. I woke R up, we were both starving. Well, it’s the perfect time to use our Gyu-kaku points, I said. Let’s go! He said. There’s nothing better than eating good food with points, which brought down our bill to 50% less! ๐Ÿ˜€

Btw, tonight is the start of Ramadan. We will be fasting for a whole month starting tomorrow. So we went to Target to stock up on some pantry items. I haven’t finished my meal plan so I just stock up on some fruits, oatmeal and protein bars for our suhoor. We will be fasting for 15 hours this year, and this is going to be my second Ramadan in the US. I’m excited! I’m hoping for some miracles this month and I’m also looking forward to reflect and give back.

Now I’m relaxing at home. It’s been a long day. R is right beside me, watching Game of Thrones. I don’t follow the series, I just don’t get the hype. Don’t get me wrong, I tried to watch a couple of episodes… Anyway I let him have the TV every Sunday night, so here I am typing in my WordPress app while listening to Spotify with earphones on. All good, it’s been a good day, and I hope it will be a good Ramadan for us all ๐Ÿ™‚

Tentang 3 Hal

Tau nggak, akhir2 ini saya banyak banget ide buat blog terus semuanya mandek di draft nggak selesai2 karena pas lagi nulis adaaa aja gangguan. Jadi mari kita coba nulis post ini, dari HP, nggak pake mikir, supaya blog ini nggak sepi2 banget gitu ๐Ÿ˜‰

Anyway, mau cerita beberapa hal yang kejadian atau saya lagi pikirin akhir – akhir ini.

Tentang Pengemudi Taksi Online

Akhir- akhir ini saya lagi sering naik taksi online. Disini ada 2, namanya Uber dan Lyft. Saya lebih sering pakai Lyft soalnya ada app yang bisa kasih cash back. Hampir setiap perjalanan saya ngobrol sama supirnya. Kebanyakan mereka yang ngajak ngomong duluan. Maklum, orang Amerika emang terkenal suka (banget) small talks dan ngajak ngomong orang. Awalnya saya canggung, lama – lama kebiasa. Lucu deh, dalam sekitar 10-15 menit perjalanan, saya bisa tau jumlah anak si supir, dulu kerja dimana, dan cerita – cerita unik lainnya. Ada orang yang habis rugi gila – gilaan karena trading bitcoin, ada yang pensiunan tapi bosen di rumah aja, ada imigran yang baru datang dari Timur Tengah dan sedang berusaha settle disini. Kayaknya saya udah pernah cerita beberapa kali tentang pengalaman saya dengan supir taksi online ini, jadi saya mau update aja kalau sekarang saya makin jago small talks! Yay! Hahahaha. Dengan senang hati saya bisa nanggepin mereka ngobrol, itung – itung bikin perjalanan saya makin gak berasa.

Tentang Buku Bacaan

Kalau kamu temenan sama saya di Goodreads, mungkin kamu lihat kalau saya punya reading challenge yang sedang saya jalanin. Tahun ini saya menantang diri saya untuk baca 24 buku – kurang lebih 2 buku sebulan, gitu kan. Eh nggak disangka, di bulan April ini sekarang saya udah baca 18 buku! Kayaknya bakal jauh melewati target nih ๐Ÿ™‚ saya jadi sering baca gini soalnya rumah tetanggan sama perpustakaan kota, terus sekalian saya ingin belajar banyak soal budaya Amerika tempat saya tinggal sekarang. Makanya kalau lihat daftar buku yang saya baca, isinya kebanyakan buku Amerika yang setting nya di Amerika, plus buku – buku tentang Imigrasi / cerita Imigran disini.. beberapa buku favorit yang saya baca tahun ini adalah bukunya Michelle Obama – Becoming (aduh ini orang superrrrr inspiratif!!!), Jose Antonio Vargas – Dear America, dan kalo fiksi bukunya Rachel Joyce – The Music Shop. Buku pertama tentang hidupnya Michelle Obama dan sebenernya saya nggak suka baca biografi, tapi buku ini bagus banget! Saya suka gaya ceritanya dia dan belajar banyak dari hidupnya. Buku kedua tentang hidupnya Jose Antonio Vargas yang “terpaksa” jadi imigran gelap di Amerika. Masalah imigrasi memang cukup pelik disini, cerita Jose cuma 1 dari sekian banyak imigran gelap lainnya. Saya sempet baca beberapa buku soal imigran lainnya tapi dia juga sempet menyelipkan beberapa fakta soal kebijakan2 dan bikin saya makin aware sama isu imigrasi ini. Buku ketiga sih drama komedi ya.. tapi saya suka banget sama pemaparan tokoh2 nya dan juga karena ceritanya diselingi oleh musik2, sesuai judulnya. Kalau kamu, buku apa yang berkesan di tahun ini?

Tentang Jane The Virgin

Tanpa disadari saya udah berasa ngetik banyak juga nih (hore!) dan sebelum udahan saya mau cerita soal serial Jane The Virgin yang saya lagi tonton. Penting nggak penting, tapi baca terus yaa hehehe. Jadi saya kan udah ngikutin serial ini dari season 1. Ceritanya macem2, namanya juga telenovela. Penuh drama. Tapi inti nya Jane ini selalu terlibat cinta segitiga. Awalnya hidupnya baik2 aja, dia punya tunangan namanya Michael. Tiba2 dia nggak sengaja diinseminasi (panjang ceritanya) dan jadi hamil anaknya Rafael. Long story short, dia lahirin anaknya Rafael, nikah sama Michael, dan hidup bahagia sampai… Michael meninggal! Terus fast forward 4 tahun kemudian dia akhirnya berhasil menata hidupnya kembali, dan akhirnya menjalin hubungan sama Rafael, dan udah mau nikah. Tiba-tiba Michael hidup lagi!! Ternyata selama ini mereka semua “dikerjain” sama tokoh antagonis namanya Rose dan Michael nggak meninggal tapi cuma dibuat lupa ingatan dan selama ini juga menjalani hidup baru sebagai Jason di Montana yang hidupnya bedaaaa banget sama hidupnya Michael. Bayangin dong perasaan Jane pas tau?! Drama banget kan! Hahahaha. Saya punya pertanyaan iseng nih. Kalau jadi Jane, kamu bakal tetap sama Rafael atau Michael? Atau nggak 2-2 nya? ๐Ÿ˜›

Okelah sekian cerita random saya hari ini. Semoga post berikutnya nggak terlalu lama dan saya bisa kelarin drafts yang ampir bulukan hehe. Oh iya, selamat Paskah bagi yang merayakan dan selamat akhir pekan teman-teman! ๐Ÿ™‚

Drama Handphone

Kemarin – kemarin ini hp saya sempet jatoh terus layar nya rada retak sedikit di bagian kiri bawah, dekat speaker. Saya sempet panik waktu hp nya jatoh soalnya hp ini belum ada setahun dibeli, alias baru aja dibeli pas saya pindah ke Amerika. Miris kan! Untungnya sih semua fungsi masih berjalan normal, jadi saya diam – diam aja sampai akhirnya si R sadar kalau layar hp saya ada retaknya.

Continue reading “Drama Handphone”

Hari Ini

Hari ini saya memulai hari dengan belanja mingguan di Supermarket dekat rumah. Kebetulan kulkas sudah mulai kosong jadi saya beli beberapa bahan masakan. Si R lagi kepengen makan pasta, jadi saya beli bahan – bahannya. Saya ingin masak pasta denganย krim pesto. Setelah belanja mingguan, saya mampir toko kopi favorit saya dan beli segelas latte. Untung aja saya nggak lupa bawa gelasย sendiri. Saya lagi berusaha mengurangi penggunaan barang sekali pakai termasukย coffee cup dari kertas kalau beli kopi untuk dibawa pulang.

Continue reading “Hari Ini”